“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (petunjuk-tuntunan-agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatah akan ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa kebodohanmu: Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Alloh orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (terj. QS. 3: 103).
Bagaimana kira-kira perasaan masing-masing kita bila hati ini terbuka terhadap ayat tersebut di atas. Penulis yakin masing-masing diri kita berbeda penerimaan dan rasa atas sentuhan Ilahiyah di atas sebagaimana ragam keinginan dan pandangan kita sendiri. Bersuaralah wahai hati dengan sejujurnya dan mari kita memasuki wilayah perbaikan dan peningkatan mutu “rasa hamba dan penghambaan” hanya kepada Alloh. Sebab hanya dengan prinsip mendasar ini yang menjadi pembeda derajat dan kelas kita di sisi Alloh. Kita sering mengucapkan sesuatu tanpa mengerti makna apalagi sampai penerapannya (bahasa kerennya: verbalistik). Contoh keseharian, saat kita menghadiri suatu resepsi pernikahan atau apalah namanya, kita mendengar ucapan, “Sebagai orang beriman kita harus bersyukur, semoga berkah..dst bersamaan dengan acara hiburannya yang cenderung mengundang semut ma’shiyat. Kenapa dibilang ma’shiyat ? Karena di situ dengan sebab atas nama hiburan itu, di situ pula ada minuman keras, perjudian, kontes goyang pinggul, perkelahian rebutan cewek dan mudah tersinggung atas nama harga diri. Tahu tidak ? Itu, tu manajernya super canggih Syaithon dan bolo-bolonya tertawa cekikikan… dan dengan kemampuan atas kerjaan pokoknya mereka (Syaithon) menabur bumbu kesenangan dan keni’matan palsu dan semu pada hawa nafsu semua penonton yang hadir itu. Jadi kesimpulan atas nama nafsu mutlak dibuat oleh syaithon bahwa nafsu yang sudah menjadi budaknya (syaithon) selalu berkata: “Nonton pesta, orkes / dangdutan, judi, minuman keras dan adu jotos itu itu sesuatu yang memuaskan, membanggakan, menyenangkan, membuat tenar, jagoan, bahkan menghilangkan nyawa orang lain tak jadi soal yang penting kehebatan dan “harga diri” …dst.
Kita yakin dan tahu betul bahkan sangat paham bahwa syaithon dan manusia sangat berbeda dari keseluruhan aspeknya. Syaithon tercipta dari api, sedang manusia dari tanah. Syaithon pasti masuk neraka dan sangat terkutuk, sedang manusia machluq yang sangat mulia dan belum tentu masuk neraka.
Kesimpulannya bahwa draf kuasa Alloh, Alloh menetapkan dalam sunnah-Nya bahwa “syaithon adalah musuh nyata manusia”. Syaithon bukan kawan, bukan teman dekat, dan bukan saudara manusia. Jadi menurut Shobat, tu… dulur-dulur yang secara objektif sangat berbeda dengan syaithon, melakukan kegiatan atas suruhan syaithon, berfikir menurut kehendak dan kemauan syaithon. Aktifitas dan berfikir manusia sama persis bahkan bertekuk lutut jadi budaknya (syaithon). Sungguh mengerikan khan Shobat ? Manusia yang berbeda dengan syaithon tapi bisa sama persis dan bersahabat. Aneh tapi nyata khan ?
Pernahkah kita berfikir untuk menjawab pertanyaan yang teramat mendasar dan sederhana ? “Bila kenyataan semua ini adalah cewek. Adakah cewek ?” Asal tahu aja, adanya cowok, cewek, kaya, miskin dsb. pasti itu menunjukkan keragaman dan secara pokok membedakan Alloh Yang Esa dengan machluq-Nya “yang berbilang”. Jadi konsep dasar “BEDA DAN BERBEDA” itu adalah ibarat ladang. Ladang untuk mencari titik yang sama, ladang untuk berusaha bersatu, ladang untuk berusaha bersaudara.
Mari kita latihan meniti nasihat Alloh melalui ayat di atas. Manusia sudah sewajarnya dan manusiawi (fithroh) ketika berpegang teguh pada “tali agama Alloh”. Manusia akan kehilangan kemanusiaannya dan berubah menjadi “Syaithoni” bila manusia lepas dan melepaskan diri dari ikatan tali agama Alloh. Artinya kesucian (fithroh) manusia akan hancur-raib dan berubah-berganti menjadi bersifat “syaithoni”, karena hanya syaithonlah yang membangkang dan melepaskan diri dari ketentuan Alloh. Mengapa syaithon melepaskan tali agama Alloh ? Jawabannya mudah karena bersumber dari harga diri dan sikap sombong atas kasus seorang Adam AS.
Bunyi ayat berikut adalah, dan janganlah kamu bercerai berai, Alloh melarang keras cerai-berai, Alloh menyuruh kita bersatu dan jangan bermusuh-musuhan. Mengapa ? Karena kita tercipta dari keadaan yang berbeda-beda (beragam). Beda selera, beda cara pandang, beda cara berfikir, beda kemampuan, beda jatah rizki, beda…, beda…, beda…,. Ini alat, sarana atau fasilitas agar ada usaha untuk menuju Yang Satu. Sebab kalau semuanya sama, maka tidak ada perbedaan dan tidak ada persamaan. Jadi konsep objektif perbedaan seperti perbedaan dan ragam berbagai macam bunga dalam sebuah “Taman Raksasa dan Semesta”. Shobat mungkin lebih sepakat bahwa taman yang indah itu adalah taman yang memiliki berbagai macam bunga. Dan taman itu sendiri bermakna wadah dari berbagai macam bunga. Jadi taman memiliki konsep keragaman (dari data dan sumber yang berbeda) tapi konsep satu yang melekat pada taman “keindahan”. Keindahan yang ideal adalah keindahan yang berasal dari keberagaman. Berbeda menuju satu. Usaha untuk bersatu adalah indah. Usaha untuk mencari titik yang sama adalah keindahan. Usaha untuk bersaudara adalah kemuliaan dan keindahan. Kemuliaan dan keindahan akan melahirkan sikap saling sayang dan menyayangi (kasih-sayang). Perbedaan bila diproses secara manusiawi (fithroh), maka akan melahirkan keindahan. Keindahan akan menebar rohmah. Jalan logika “sunnatulloh ” ini tidak bertentangan dengan lisan Nabi yang dengan kemuliaannya pernah bersabda: “Perbedaan adalah penebar kasih-sayang (rohmah)”. Sebaliknya bercerai-berai itu buruk, saling berpecah-belah memisahkan diri adalah teramat jelek, dan saling bermusuhan adalah sesuatu yang hina-dina. Sesuatu yang sangat tercela dan rendah.
Bila perbedaan melahirkan persamaan, persatuan dan persaudaraan, maka ini logika manusiawi dan kenyataan yang benar. Tapi bila perbedaan menyebabkan tidak bisa menciptakan kebersamaan, bila perbedaan melahirkan bercerai-berai, bila perbedaan menyebabkan permusuhan, maka logika ini adalah “made in syaithon”. Mengapa ? Karena logika syaithon dan iblis tetap (statis) yaitu tetap buruk dan jelek. Logika machluq ini tidak akan pernah benar. Syaithon memiliki target dan strategi besar yaitu umat harus dalam kondisi pecah belah, bermusuhan, dan tetap berbeda. Syaithon menentang keras persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan.
Coba kita urai dengan “pisau” analisa ini. Apakah ummat terekrut / terikut dalam “partai (golongan) Alloh/Hizbulloh” atau “partai syaithon / Hizbusy-syaithon?” Tatkala kita memiliki cara bersikap seperti contoh: Karena partai politiknya berbeda, maka bukan golongannya. Karena pendapatnya berbeda, maka bukan kelompoknya. Karena masjidnya berbeda, maka bukan anggota kelompoknya.
Karena sholat shubuhnya berbeda, maka bukan anggota madzhabnya. Karena lagu baca Qur’annya berbeda, maka berarti tidak sepaham dengannya. Karena organisasi keagamaannya berbeda, maka berarti bukan golongannya. Karena cara ngajinya berbeda, karena cara berpakaiannya dan bahkan karena tidak mengikuti ide dan fikirannya, maka berarti bukan kelompoknya. Coba kalau menurut penglihatan Shobat, ummat Islam sekarang ini gambarannya kaya apa ? Kita lebih rela memperjuangkan dan mementingkan organisasinya, partainya, cara berpakaian dirinya, dari pada mementingkan saudaranya. Kita lebih rela gontok-gontokan dengan saudara sendiri demi membela paham piciknya dan segudang kerelaan berjuang mengatasnamakan ummat dan pemakaian “lipstik ringan” lillaahi ta ‘aalaa. Jumlah ummat Islam yang banyak tidak menjadi kuat dan berwibawa. Tetapi sebaliknya menjadi sangat ringan dan mudah untuk dipermainkan, diperalat dan dijadikan semacam barang dagangan dengan harga yang sangat murah.
Ada ucapan dari mulut bijak bestari, “Ummat Islam ini tidak bisa maju karena tidak kompak”. Pernyataan bijak inipun bobotnya bisa jadi berbeda. Sebab kalau yang dimaksud kompak “harus” mengikuti kemauan dan kelompoknya, maka kata generasi ABG, “sama aja bohong”. Tetapi bila pernyataan bijak ini sebagai salah satu bentuk sikap nyata keprihatinan yang mendalam dan sekaligus mencoba memberikan teladan yang nyata, konstan, Islami, dan istiqomah, maka yang lemah berharap dan berdo’a semoga lahir figur dan generasi yang mengembalikan kemuliaan dan kekuatan Islam.
Achirnya Shobat…, mungkin bila berkenan kita lanjutkan di edisi mendatang. Insya Alloh. Yuk kita tutup lembar kaji ini dengan jaminan Alloh dalam firman-Nya:
… sungguh telah nyata antara yang benar dan yang sesat (bathil). Alloh hanya pelindung orang-orang beriman, Dia yang mengeluarkan mereka (kaum beriman) dari kegelapan menuju hidayah (cahaya), dan orang-orang kafir pelindungnya adalah “thoghut / syaithon” yang selalu berusaha pasti mengeluarkan manusia dari jalan cahaya (yang benar) menuju kegelapan / kesesatan.
Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (terj. QS. 2: 157).
CTR.Ratno MH.

July 21, 2008 at 6:40 am
semoga ISTIQOMAH akhy…
July 21, 2008 at 6:43 am
Subhanallah, smga tulisannya ikhlas dan tulus untuk kemenangan dakwah. mari terus bergerak dan bergerak tiada henti dalam dakwah. amiiin.