Realita kehidupan bangsa yang carut-marut dilanda berbagai permasalahan yang kompleks di negeri, membuat bangsa Indonesia menjadi simalakama, tidak punya pendirian dan plin-plan seperti mental bangsa kita saat ini. Negera yang cukup besar dengan berbagai pluralitas yang tersebar di Indonesia membuat Pemerintah tidak tegas dan banci. Tidak ubahnya seperti aktor dan aktris yang berperan sebagai waria. Negara ini tidak jelas memiliki identitas, ketika dikatakan sebagai Negara Islam kontroversi bermunculan, jika dikatakan Negara Liberal pun menolak, negara Kapitalis, atau Sosialis juga tidak. Jika Pemerintah bertindak tegas dan tau dengan identitas bangsa sesungguhnya sejak dahulu kala Indonesia adalah Negara Islam, lalu kenapa kita takut untuk menyatakan diri sebagai Negara Islam. Soekarno adalah sosok pemimpin yang militan terhadap Islam, Soeharto, dan Presiden seterusnya. Sama halnya dengan Isu nasional yang berkembang terhadap pembubaran Front Pembela Islam yang jelas sebagai eksekutor dalam gerakan anti maksiat, penegak syari’at Islam. Fundamentalisme yang dirasakan oleh saudara-saudara kita FPI seharusnya menjadi panutan bagi kita. Kenapa kita diam ketika Islam dicemooh dan dihinakan, bukankah kita adalah saudara seiman dan se-‘aqidah. Jika terjadi gerakan separatis sesungguhnya itu adalah bagian yang tegas dalam penegakan hukum Islam, karena Penegakan Hukum di Negeri ini seperti Pelacur (terlalu murah). Sejauh ini kasus Munir (Penegakan HAM), BLBI, Ilegalloging, Woman Traficking dan masih banyak kasus lain yang seharusnya lebih diprioritaskan tetapi justru sebaliknya. Dan jangan-jangan ini merupakan salah satu Skenario Pemerintah dan Media dalam Pengalihan Isu BBM yang tak lama lagi naik mulai dari 8.000,- s.d 10.000,- dengan mengalihkan isu sarah yang tidak produktif.
Jika kita berbicara tentang aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam, itu merupakan hal yang wajar karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa “Keras terhadap bentuk kekufuran dan kebathilan”. Dan yang perlu kita fahami bahwa Islam digambarkan di dalam Al-Qur’an seperti Lebah, ia tidak akan pernah mengganggu sipapaun kalau tidak ada yang mengganggu atau mengusik. Sama halnya dengan TRAGEDI MONAS, yang mengakibatkan hal tersebut adalah disebabkan ejekan yang dilontarkan salah satu kelompok aliansi kebebasan umat beragama sehingga memancing kemarahan FPI yang begitu fundamental dan kental pada Islam. Jangan hanya menjadikan agama sebagai komersialisasi dunia. Begitu banyak kajian akbar yang berujung kepada kajian partai, zikir akbar, tabligh akbar dan yang berujung pada kampanye akbar tetapi ketika saudara kita dihujam dan diintimidasi kita hanya berdiam diri. Saatnya Islam bersatu, bukankah sudah banyak teguran dan cobaan yang diisyaratkan Allah SWT, karena kelalaian kita sebagai muslim.
Wahai saudaraku jangan terpecah belah, karena kita adalah ummat terbaik yang diutus Allah untuk manusia (Kuntum Choiru Ummatin Ichrijat Linnaass). Masalah FPI adalah masalah Umat Islam, Masalah Umat Islam adalah masalah Iman dan Syari’at, Masalah Iman dan Syari’at adalah masalah kita bersama. Mari bersama kita TOLAK PEMBUBARAN FPI, siapa lagi kalau bukan kita, cukuplah saudara-saudara kita yang ada di POSO, AMBON, SAMBAS, SAMPIT, BANYUAWANGI, ACEH, dan lain-lain yang menjadi korban terhadap penindasan YAHUDI & NASRANI yang tidak akan pernah relah dan ridho terhadap Islam. Apakah kita juga harus berdiam diri….??