Pagi yang awalnya cerah, tertutupi awan mendung kelabu. Desiran angin kelembapan, menyibak
helai demi helai daun pohon akasia. Berjejer nan rapi dihalaman muka sekolah SMA Taman Siswa.
Tet… tet… tet… Bel istirahat bergema seantero sekolah. Hulu hilir siswa meniti koridor. Ada yang
menuju perpustakaan, ada pula yang menuju kantin.

“Khadijah…..”. Panggil makhluk imut berjilbab putih.
“Eits…. gak usah dilanjutin aku sudah tahu, kekantinkan?”. Seloroh Khadijah pemilik rambut ikal
sebahu, menghentikan Ashifa melanjutkan ucapannya.
“He…. he…. tahu aja kamu”. Ashifa tersenyum. Terlihat lesung pipi yang ada dikedua pipinya. Ia
begitu riang. Khadijah mengerti keinginannya.
“Ya sudah, yuk”. Ajak Khadijah seraya menggamit lengan Ashifa.

Melewati pintu ruang kelas IPA.1, yang merupakan kelas kebanggaan mereka berdua. Baru dua
langkah kelas mereka tinggalkan, Khadijah mendadak menghentikan langkah.
“Tunggu sebentar Fa, sepertinya ada yang terlupakan”. Pinta Khadijah.
“Oh, iya. Kamu tunggu disini sebentar ya, enggak lama kok!”. Lanjutnya.
Tidak lama kemudian, makhluk jangkung dan kurus itupun kini telah kembali
“Kamu pergi kemana?”. Tanya Ashifa.
“Ke kelas IPS.1, ada amanah dari teman”.
“Amanah apaan?. Kayaknya penting banget”. Selidik Ashifa, dipenuhi keingintahuan yang mem-
buncah.
“Ada deeh….”. Jawab Khadijah. Membuat rasa keingintahuan Ashifa kian bertambah.
“Buruan yuk kekantinya. Nanti jam istirahat keburu habis. Udah nggak usah dipikirin, nanti kamu
juga bakalan tahu sendiri kok Fa”. Terang Khadijah, mengalihkan pembicaraan.

Sepiring lontong sayur milik Ashifa, semangkuk mie ayam pesanan Khadijah telah terhidang dimeja,
menunggu untuk disantap oleh keduanya. Sepuluh menit jelang bel masuk, keduanya tengah berjalan
menuju kelas.
“Alhamdulillah… cacing didalam perut berhenti juga berdemo”. Ucap Ashifa seraya mengelus-elus
perutnya.
“Ashifah… Ashifah…, emang cacing didalam perutmu itu bisa demo juga?”. Khadijah memperolok
Ashifa.
“Ya, iyalah… masa ya iya dong. Gak cuma Mahasiswa sama rakyat aja yang bisa demo minta
diturunin harga BBM”. Timpal Ashifa.
“Klo udah tiba waktunya makan, tapi kitanya juga belum makan. Pastinya mereka bakalan brontak”.
Lanjutnya.
“Ehm…. masuk akal juga”. Khadijah membenarkan.

Ruang kelas IPA.1. Meja baris kedua dari pintu masuk, meja nomor urut pertama. Kedua sahabat itu
asyik mengobrol, menanti bel masuk pertanda istirahat usai.
“Fa, kamu mau tahukan kepentingan yang tadi aku maksudkan”. Khadijah kembali teringat.
“Iya”. Sambut Ashifa antusias.
Khadijah merogoh saku androk. Tangan Ia keluarkan dari saku, menggenggam sesuatu. Sesuatu
itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah surat tersampul amplop merah muda. Suasana
kembali hening. Yang memang hanya ada mereka berdua saat ini. Khadijah meraih tangan Ashifa.
“Nih, untukmu”. Amplop surat merah muda, Kahdijah genggamkan ketangan Ashifa yang Ia raih.
Jari-jemari Ashifa gemetar. Perlahan Ia tarik kembali tangannya. Panas dingin sekujur tubuhnya.
Dag…. dig… dug… detak jantung semakin cepat memacu. Galau, takut, cemas dengan apa yang
ada dihadapan. Tak mampu jua Ashifa sembunyikan. Seberapapun kuat Ia melawan, namun rasa
itu semakin enggan padam, berhenti dan tenang. Semua tampak tergambar jelas pada raut wajah

oval miliknya.
“Kamu kenapa Fa?”. Khadijah keheranan.
“Ti….dak… tidak kenapa-kenapa kok”. Ashifa mengelengkan kepala.
“Pertama, nih surat sampulnya merah muda. Trus udah gitu yang ngasih cowok pula. So, apalagi
klo bukan surat cinta”. Goda Khadijah.
Ashifa tak ambil pusing terhadap perkataan Khadijah. O…o…, bertapa terkejutnya Ia. Tatkala
merentangkan amplop. Lengkungan garis membentuk hati, yang ditengahnya bertuliskan Dear
Ashifa. Tak kuasa Ia melanjutkan. Niat membuka amplop Ashifa batalkan. Buru-buru surat
Ia masukkan kedalam tas.
“Lho…. kok nggak dibaca?”.. Reaksi Khadijah kaget.
“Maaf, sebaiknya tidak untuk saat ini”.
“Terserah”. Kedua bahu Khadijah terangkat mengiringi ucapannya.
——–

Letih dan peluh menghinggapi sekujur tubuh. Ashifa merebahkan diri ditempat tidur. Seolah
tiada kuasa menolak kehendak mata yang saat ini ingin terlelap.
“Astagfirullahal’adzim…”. Ashifa tersentak bangkit dari peraduan. Matanya melirik jam tangan
yang masih melekat ditangan. Pukul empatbelas lewat sepuluh menit. Tidak diduga, cukup lama
Ia terlelap. Bergegas Ia mengganti pakaian seragam dengan pakaian kesehariannya. Menuju kamar
mandi dan berwudhu. Pikiran dan hati Ashifa kini telah kembali tertata. Wajahnya kembali fres
seperti sediakala. Tak ada lagi lukisan gundah gulana mewarnai raut wajah. Dengan penuh
kekhusyukan sholat dzuhur Ashifa jalankan. Mukena miliknya kini terlipat rapi. Seruan bunda,
membuka pintu kamar perlahan.
“Shifa, ayo turun makan”.
“Ok, bunda”. Sahutnya semangat.
Usai rutinitas membantu sang bunda, Ashifa kembali kekamar. Amplop surat merah muda
ada digenggaman. “Tapi, ah… sebaiknya aku lupakan”. Surat itu Ia letakkan tepat disela-sela
buku agenda biru tua. Tempat dimana skejul masa depan Ia rancang. Keingngintahuan identitas
si pengirim nampaknya akan tetap Ia pendam.
——–
Dua tahun berlalu. Masa-masa ceria dikala SMA telah jauh tertinggal. Target memasuki Akademi
Kedokteran Unggulan berhasil Ia raih. Senyum Ashifa mengembang. Duduk dikursi menghadap
meja belajar. Jari-jemarinya menyibak lembar demi lembar agenda bersampul biru tua. Diantara
ibu jari, telunjuk danjari tengah terselip sebuah pena. Mengayun langkah mengikuti gerak jari-
jemari. Handphone Ashifa berderit, ada panggilan masuk.
“Hallo…. Assalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam”.
“Apa kabar Fa?”.
“Alhamdulillah baik Ja”.
“Fa, afwan ana mau tanya. Masih ingat nggak sama mas Hanafi?”.
“Mas Hanafi yang satu sekolahan sama kita dulu itukan. Memangnya kenapa Ja?”.
“Begini Fa, dulu ana pernah ngasih surat untuk kamu. Itu loh… yang amplopnya merah muda”.
“Iya, aku ingat”.
“Apa sudah kamu baca?”. Khadijah kembali menanyakan.
“Belum Ja. Itu sudah lama berlalu. Lagi aku sudah lupa menaruhnya dimana”.
“Astaga. Jadi, apa isinyapun kau sama sekali tidak tahu”. Khadijah terkejut.
“Tidak. Aku bahkan sama sekali tak ingin tahu. Tak ingin kuracuni hatiku, untuk kemudian
terjerat cinta yang diragukan kehalalannya. Ku hanya ingin berlabuh pada titian indah cinta,
senantiasa Alloh ridho dalam setiap pengamalannya”.
“Jika benar, demikian ukhti harapkan? Segeralah temukan surat yang sama sekali belum ukhti
ketahui apa maksud dan tujuannya itu. Insya Alloh, disana mungkin akan ditemukan jawaban.”
Ashifa mengerenyitkan dahi. Ia bingung maksud perkataan disampaikan oleh Khadijah.
“Ana paham, ukhti sedang bingung. Nanti pabila telah ditemukan, ukhti akan mengerti maksud
atas segala ucapan. Assalammu’alaikum ya ukhti”.

“Wa’alaikumussalam”. Telphone terputus. Suara Khadijahpun menghilang.
Kebingungan kian menerpa dirinya. Kalimat ucapan terakhir Khadijah terngiang-ngiang, berulang
melintasi fikirian. Jari-jemari Ashifa terhenti pada halaman tengah agenda.. Ia tertegun. Baru saja
diperbincangkan, surat yang dimaksud pada akhirnya ditemukan. Tergerak Ia, ingin mengetahui apa
gerangan isi termaktum dalam surat tersebut. Tulisan bagian depan amplop tetap sama, seperti saat
pertama ketika ia membacanya. Amplop surat ia balik. Tempat dimana tertera nama sang pengirim.
“Ha..ha..hanafi…….”. Ashifa tergagap mengeja huruf nama tersebut. Kontan ia pun terkejut. Isi
surat Ia keluarkan. Dengan hati berdebar, surat ia baca.

Assalammu’alaikum.

Maaf, bila gerangan kehadiran surat ini mengusik kedamaianmu. Semoga apa yang saya sampaikan
tidak mengurangi luhurnya niat, tulusnya harap. Dan semoga sedianya pintu maaf dibukakan bagi
yang menulis dan juga yang membacanya.

Bila hati tercemar cinta, jihad pulalah peredamnya. Namun bila, rasa itu tiba. Ciptakan mimpi
terangkai menjelma nyata. Segala upaya telah ku coba, hanya inilah yang dapat menjadi penengah.
Dan semoga maksud baik inipun adalah jawabannya. Ashifa, bersediakah kau mengarungi titian indah
cinta-Nya bersama denganku?. Kutunggu jawabanmu.

Wassalam.
Hanafi

Ashifa menitikan air mata. “Subhanalloh..” desahnya. Sama sekali ia tiada menduga, dikala
kalangan remaja terlena dalam jeratan trend pacaran. Hanafi justru lebih berani berkomitmen.
Kekeguman akan sosok mantan ketua OSIS siswa IPS.1 soleh, karismatik serta pekerja keras,
Hanafi tak mampu Ia rengkuh. Ketika anak-anak sebaya asyik berfoya dengan uang orang tua,
tidak dengan Hanafi. Ia justru memilih bekerja membantu mengurus pabrik roti milik
ayahandanya. Semuanya telah berlalu, meninggalkan sesal. Lembaran surat kembali dimasukan.
Akan tetapi, jemarinya terhenti. Tersandung sesuatu. Tangan Ia tarik keluar. Lelehan bening
mengaliri pipi ia usap. Rupanya benda itu adalah sebuah cicin. “Cincin inupun kini tak berarti apa-
apa”. Desah Ashifa pilu. Cicin itu hanya mampu Ia kenakan dijari telunjuk kiri.
——–

Perkuliahan menamapaki semester enam. Pinangan anak Pak Camat Desa Sukaremi, terus
menanti jawaban Ashifa. Hingga kini, belum kunjung ia menemukan ketetapan hati. Abangnya
Rizal belum pula menikah. Manalah mungkin kuasa Ia mendahului.
“Ah… andai saja gadis pinangan abang tidak ngotot memilih melanjutkan studi S.2, baru setelahnya
menikah. Abang tentu kini berbahagia”.
——–

Ba’da dzuhur cahaya terik mentari menghujam tepat ubun-ubun kepala. Ashifa berdiri
menghadap papan pengumuman. Seragam putih, almamater putih kebagaan dengan setumpuk
buku terpangku ditangan. Tidak lama kemudian, Ia pun berbalik melangkah dan ups……
Brek… brek….. Buku-buku berjatuhan. Agenda biru tua yang tadinya ditaruh paling atas buku-buku
lainnya ikut pula tercecer. Tanpa sengaja Ia menabrak seorang gadis.
“Astagrirullahal’adzim. Afwan dik saya kurang hati-hati”. Demikian Ia panggil, sebab gadis
tersebut nampak jauh lebih muda ketimbang dirinya.
“Sama-sama mbak, saya juga mohon maaf kurang berhati-hati”. Pinta gadis yang mengenakan
jilbab cream itu, menyerukan hal serupa.
“Kenalkan saya Ashifa.” mengulurkan tangan pertanda perkenalan.
“Neni”. Menyabut uluran jabat tangan Ashifa.
“Ada yang hilang dik bukunya?”. Ashifa menanyakan.
“Alhamdulillah semua komplit. Syukron mbak, tapi saya harus buru-buru pergi”.
“Afwan”. Ashifa kembali beranjak pergi.

Keesokan harinya. Rizal menghampiri Ashifa yang saat ini tengah duduk diteras. Rizal
menyampaikan sesuatu pada Ashifa. Ia nampaknya serius.
“Dik abang mohon untuk yang satu ini jangan kau tolak ya?”.
“Loh.. kok begitu”.
“Pastinya. Sebab dia bilang kau telah menerima pinangannya”.
“Gimana bisa bang, shifa aja sampai sekarang belum memberi jawaban apapun. Dan kalaupun
iya, mana mungkin shifa mampu mendahului abang. Shifa ingin abang terlebih dahulu menikah”.
Jelas Ashifa.
“Siapapun lebih dulu bukan masalah.. Jodoh sudah ada yang atur. Cepat atau lambat, semua
telah ada ketetapannya. Satu hal adikku, niat baik haruslah disegerakan”.
“Besok dia akan kemari meminangmu secara resmi. Ingat kau harus hadir”. Rizal mengusap-
usap kepala ashifa dengan penuh kasih sayang.
Apa yang dikatakan abangnya benar. Niat baik tidak boleh ditunda. Ashifa tak kuasa mem-
bendung air mata. Abangnya begitu berbesar hati, ridho dan rela didahului menikah oleh
dirinya. Hari dijanjikan tiba. Perasaan hati Ashifa diliputi berjuta tanya. Siapa gerangan orang
yang dimaksud abangnya, pria yang lamarannya ia terima.. Berulang kali mencoba mengingat,
akan tetapi tak ada satupun tertemukan jawab.
“Assalammua’alakum”. Seru seorang gadis tatkala membuka pintu kamar Ashifa.
“Wa’alaimussalam. Neni…, kok kamu ada disini?”. Ashifa terheran.
“Udah nanti aja Neni jelasinnya. Yuk mbak ikut Neni sebentar. Ada yang mau Neni perlihatkan
sama mbak?”. Neni menggamit tangan Ashifa menuju teras depan, melewati ruang tamu. Dikursi
tamu tampak abangnya Rizal berserta ayah dan bunda tengah berbincang dengan lima orang.
“Ha…. hanafi”. Seru Ashifa pelan keragu-raguan setibanya diteras.
“Assalammua’alakum”. Sapa pemuda tinggi berbaju koko biru muda menelungkupkan tangan
kedada.
“Wa’alaimussalam”. Sahut Ashifa seraya melakukan hal yang sama.
“Mbak tunggu disini sebentar ya, ada sesuatu yang harus Neni kembalikan pada mbak”.
“Ini milik mbak”. Neni menyodorkan buku tebal sampul biru tua. Yang sama sekali tidak ia
duga sebelumnya bahwa buku keduanya telah tertukar akibat insiden saat keduanya pertama
bertemu.
“Sebelumnya Neni minta maaf mbak. Tak terbesit sedikitpun niat bermaksud lancang membaca
agenda pribadi mbak. Pada saat Neni ingin menyusun kembali buku-buku, ada sesuatu yang
terjatuh dari agenda. Neni berniat mengembalikan ketempat semula tersibak halaman yang
bertuliskan, andai kesempatan masih ada?. Saat itu Neni tersadar buku itu bukanlah buku
Neni. Amplop yang terjatuh Neni taruh kembali. Pada sampul bagian amplop tertera nama mas
Hanafi. Namun lagi-lagi neni urungkan. Amplop yang telah terbukapun neni baca. Tulisan tangan
itu tidak lain adalah tulisan tangan mas Hanafi. Merasa belum yakin, surat itupun neni tunjukan
pada mas Hanafi. Dan setelah dilihat, mas Hanafi pun mengiyakan”. Cerita Neni pada Ashifa.
“Mbak tentu heran, kenapa saya dan mas hanafi ada disini. Ini semuanya berkat abangnya mbak
mas Rizal. Boleh jadi, ini adalah skenario Alloh yang dirancang untuk mbak. Mas Hanafi dan mas
ternyata saling kenal satu sama lain. Akhirnya hari inipun terjadi”. Lanjutnya..

“Subhanalloh…”. Lafaz Ashifa. Mensyukuri betapa besar nikmat karunia yang diberikan Alloh
kepada dirinya. Hanafi yang dulu ia kenal memang benar-benar kini ada dihadapannya. Ashifa
sama sekali tiada mengira gadis yang dulu ia tabrak ternya adalah adik hanafi.
“Saat ini kuingin kembali mengulang kembali kalimat yang dulu pernah ku ucapkan. Ashifah,
bersediakah kau menagrungi mahligai titian indah cinta beriring denganku?”. Ucap Hanafi
mengambil alih pembicaraan. Suasana hening sejenak.
“Tentu”. Balas Ashifa penuh keyakinan.
Cicin yang semula menempati jari telunjuk, telah dipindahkan oleh ibunda hanafi ke jari manis
lentiknya. Sebagai pertanda kesediaan. Kebahagiaan kembali membahana dihari akad
nan penuh khidmat, dikala lafaz qobiltu telah terucap. Do’a selamat sanak saudara terdekat
menawali keduanya mejalani titian indah cinta.

Selesai

Rabu, 4 Juni 2008
29 Jumadil Awal 1429 H
By Arina_UKHTI