Menapaki bulan Juni, perlahan hawa panas jelang kemarau menyergap. Fattur alias Fattu begitu teman-teman kerap menyapa. Pria berkaca mata duduk menyendiri dikursi taman terbuat dari besi berukir, ia tidak merasakan sama sekali hawa panas itu. Dibawah rerimbunan pohon pinus berjajar nan rapi menyusuri jalan berkerikil dengan lebar dua meter. Dalam suasana yang lumayan cukup panas rerumputan masih tumbuh menghijau. Solah-olah tiada lelah memberikan kesejukan kepada setiap sorot mata yang memandang. Kursi taman terbuat dari besi berjajar agak berjauhan menghadap jalan, salah satu kursi itu tengah ia duduki kini. Mata Fattu memandang lekat kerikil-kerikil yang bertebaran dijalan. (more…)

