Da’wah merupakan sebuah kebutuhan pokok setiap muslim jika dia menyadarinya, namun terkadang rutinitas da’wah sering kali menghadapi permasalahan yang rumit, sulit serta terjal terhadap objek da’wah. Belum lagi rintangan yang muncul dari sesama aktifis da’wah yang mengatasnamakan kelompok, organisasi, pandangan, partai politik, mazhab, tradisi, adat istiadat, ideologi, Beda Fiqh dan sekelumit istilah-istilah lain sehingga berujung kepada debat kusir, perpecahan dan saling mencurigai karena dinilai terjadi perebutan kader dan posisi strategis dalam masyarakat baik sekolah, kampus, instansi pemerintahan maupun swasta.

Setiap kelompok sama-sama menyuarakan bahwa kelompoknyalah yang terbaik dan paling benar, sehingga yang lain tidaklah layak dan tidak pantas mengisi ruang tersebut. Hal ini berdampak pada timbulnya sikap pembenaran (baca : membenarkan sesuatu yang tidak benar) terhadap kekeliruan pada kelompoknya.

Akhirnya banyak sekali ruang da’wah menjadi terabaikan, masjid yang duluh penuh berubah drastis menjadi kosong melompong secara mendadak. Dibangunlah masjid-masjid baru nan megah dengan kefahamannya masing-masing dan selanjutnya memunculkan perbedaan-perbedaan baru pula demikian seterusnya tidak pernah surut. Da’wah menjadi kehilangan ruh dan identitasnya, tidak lagi menyuarakan kebenaran Al-Qur’an melainkan berganti menyuarakan kepentingan pribadi, kelompok dan politis. Kesempatan semakin terbuka bagi sang superman untuk mengambil alih peran strategis da’wah untuk mengeruk kepentingan pribadi menjelang pilkada dan pemilu.

Perjalanan da’wah harus selalu mengalami regenerasi, melahirkan icon-icon baru yang mau melengkapi kesempatan hidupnya dengan kebutuhan satu ini, sehingga da’wah tidak hanya menjadi rutinitas belaka apalagi untuk sekedar mencari sensasi dan popularitas mendekati pilkada dan pemilu.

Dilain pihak kita beranggapan bahwa tugas da’wah hanyalah tugas para ulama, da’I, kiai, ustadz atau sejenisnya, sehingga tidaklah layak jika yang awampun ikut mengambil porsi da’wah. Padahala tugas da’wah merupakan tugas setiap seorang muslim.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. ( Terj.QS.Ali-Imron [03]:110)

Penulis berpendapat bahwa salah satu jawaban yang memungkinkan gejalah ini semakin meluas adalah karena masing-masing kelompok masih menggunakan cara lama sehingga strategi da’wahnya tidak mampu menyesuaikan diri dengan medan da’wah.

Di tengah pesatnya perkembangan peradaban saat ini, teknologi dan keterbukaan informasi baik Radio, TV, Ponsel dan Internet, dunia da’wah harus mampu menjadikan hal-hal tersebut sebagai tolok ukur menyusun strategi baru untuk melahirkan para pemegang estafet da’wah.

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis bukan bermaksud menggurui siapapun akan tetapi hanya mencoba untuk berbagi informasi dan sumbangsi yang teramat sederhana bagi keberlanjutan da’wah. Dan mohon maaf jika tulisan ini tidak memiliki referensi karena ini merupakan hasil dari membaca medan serta pengalaman pribadi rekan-rekan penulis sebagai sesama aktifis da’wah.

“Manusia itu akan cenderung seribu kali lebih menginginkan membicarakan tentang dirinya daripada mendengarkan tentang lawan bicaranya”, demikian ungkapan seorang Less Giblin pada halaman pertama bukunya yang berjudul “Skill With People”.

Ungkapan tersebut di atas nampaknya banyak benarnya, seorang aktifis da’wah tidak akan berhasil manakalah bersikap eksklusif dan egoistis (mau menang sendiri), tidak mau mendengarkan pendapat orang lain meskipun dalam dunia demokrasi kita diberikan keleluasaan untuk bicara. Oleh karena itu, da’wah adalah suatu pendekatan emosional yang bersifat elastis mengikuti medan namun tetap tidak terwarnai oleh kepentingan sesaat.

Tahapan-tahapan berikut merupakan tahapan pendekatan emosional yang akan membuka peluang bagi pembaca untuk menyampaikan pesan-pesan da’wah, yang penulis sebut dengan istilah PDKT (Pelajari, Dekati, Kenali dan Tunjukkan).

1. Pelajari

Mengetahui terlebih dahulu tentang obyek da’wah merupakan salah hal yang teramat penting sebelum kita memulai, karena itu dengan mempelajari terlebih dahulu tentang obyek sebagai sasaran akan meminimalisir hambatan-hambatan yang kemungkinan akan muncul. Hal ini pula yang banyak sekali digunakan di kalangan inteligent untuk mengetahui seberapa besar kekuatan lawan ataupun untuk sekedar membuat manajemen konflik. Coba bayangkan ketika kita diminta untuk menjadi seorang pembicara di muka umum, namun kita tidak mengetahui tingkat keberfikiran pendengar, apakah pendengar seorang awam, apakah seorang terpelajar, ataukah seorang pemikir dengan ketinggian ilmunya. Tentunya kita akan bingung harus berbicara dengan bahasa yang bagaimana. Karena itu mempelajari medan menjadi sangat penting untuk mendukung tujuan yang dimaksud.

2. Dekati

Tahapan kedua adalah pendekatan. Pendekatan menjadi sangat penting karena pesan da’wah tidak akan sampai selama kita berada sangat jauh dan apalagi kalau kita tidak dikenali oleh obyek kita. Melalui pendekatan akan sangat tahu siapa, apa dan bagaimana obyek. Pendekatan dimaksudkan untuk bagaimana kita menuju kepada tahapan mengenal.

3. Kenali

Kalau untuk sekedar tahu obyek kita baik nama, jenis kelamin, Agama, tempat tinggal, Asal dan keluarga itu merupakan sesuatu yang biasa di masyarakat kita, tapi bagaimana dengan mengenal. Penulis mengartikan istilah “Mengenal” meliputi berbagai aspek, diantaranya : “Kepribadian, Hobi, Yang disukai dan tidak disukai, Pendidikan, Karakter (Watak), Sikap, Keinginan dan segala sesuatu yang berkaitan tentang diri obyek kita”. Informasi-informasi tersebut sangat mudah kita dapatkan dengan melakukan pendekatan kepada orang-orang disekitarnya. Nah…informasi inilah yang nantinya akan sangat berguna untuk dikelola. Oleh karena itu kenalilah lingkungan anda.

4. Tunjukkan

Tahapan ini merupakan tahapan dimana kita bermaksud mengarahkan dan menyampaikan pesan-pesan da’wah secara aman, nyaman dan ringan. Hal ini disebut juga sebagai kesempatan bagi kita untuk menunjukkan dan menyampaikan segala apa yang sudah menjadi tujuan kita.

Tahapan- tahapan tersebut di atas merupakan tahapan-tahapan yang saling melengkapi, sehingga tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, tidak bisa dihilangkan salah satu ataupun sebahagiannya. Insya Allah dengan tahapan tersebut di atas kita akan mampu meluaskan sayap da’wah dengan prinsif Rahmatan Lil ‘Alamin. Selamat berjuang dan selalu Istiqomah kepada rekan-rekan sebagai pencari kebenaran sejati. Mohon maaf apabila ada kekurangan dan kepada Allah penulis selalu memohonkan ampunan. [] CRT MK