Menapaki bulan Juni, perlahan hawa panas jelang kemarau menyergap. Fattur alias Fattu begitu teman-teman kerap menyapa. Pria berkaca mata duduk menyendiri dikursi taman terbuat dari besi berukir, ia tidak merasakan sama sekali hawa panas itu. Dibawah rerimbunan pohon pinus berjajar nan rapi menyusuri jalan berkerikil dengan lebar dua meter. Dalam suasana yang lumayan cukup panas rerumputan masih tumbuh menghijau. Solah-olah tiada lelah memberikan kesejukan kepada setiap sorot mata yang memandang. Kursi taman terbuat dari besi berjajar agak berjauhan menghadap jalan, salah satu kursi itu tengah ia duduki kini. Mata Fattu memandang lekat kerikil-kerikil yang bertebaran dijalan.

“Kenapa kerikil-kerikil itu harus ada?. Tanah yang kuning itu, pastilah akan lebih indah dengan ketiadaan mereka”. Keluhnya.

Terpaan hangat terik mentari malu-malu menyelinap disela-sela rerimbun daun pohon pinus. Sesekali daun pohon pinus kering jatuh seiring sapaan lembut sang angin. Lelah Fattu duduk memandang kerikil-kerikil dijalan, kini ia berbaring seperti biasa yang sering ia lakukan. Tas punggung mahasiswa fakultas sastra itu ia jadikan penyanggah kepala. Fattu menghela nafas dalam-dalam, perlahan mata ia pejamkan dengan tangan menyilang kedada. Terpaan angin menerpa dedaun pohon pinus menimbulkan gesekan sesamanya, membentuk suatu alunan melodi indah. Menjadi nyanyian penghantar Fattu dalam lelap tidurnya. Detik-detik berlalu tergantikan oleh menit. Sehelai daun pinus jatuh tepat diatas lengan Fattu. Ia terjaga.

“Daun pinus ini belum cukup tua untuk gugur. Warnanya masih kehijauan”. Ucap Fattu bangkit kembali duduk.

Bocah perempuan membawa sapu lidi beserta keranjang sampah erat tergenggam di tangan kanan. Mengalihkan pandangan Fattu. Matanya tertuju pada arloji tangan yang ia kenakan.

“Sudah jam sebelas tiga puluh rupanya. Pantas saja bocah itu sudah datang”. Fattu sama sekali tidak mengira, cukup lama juga ia terlelap. Ia bergegas beranjak pergi. Berjalan kaki menjuju kampus yang letaknya tak jauh menghadap utara diujung taman. Cukup sepuluh menit, maka ia pun sampai.

*****

Tiba dihalaman rumah panggung dengan corak khas ornamen kayu. Bambu berdaun hijau runcing memanjang tumbuh merapat disela-sela tembok pagar mengitari rumah. Membuat mata siapapun betah berlama-lama memadangi rerimbunnya. Motor vespa miliknya ia parkir dibawah rumah. Satu persatu anak tangga yang tingginya kurang lebih dua meter ia daki. Ting tong. Bel rumah ia pencet.

“Assalammu’alaikum”. Fattu menyeru agar dibukakan pintu.

“Apa tidak ada orang dirumah ya?”.

“Utung saja kunci serep selalu aku bawa. Tapi semua orang pada kemana?”. Ucap Fattu keherenan. Ia masuk kedalam usai meletakkan sepatu dirak. Makhluk bertinggi sedang itu menuju kamarnya. Diatas meja belajar ada memo sengaja ditinggal untuk dirinya.

Untuk : Fattu

Kita sekarang lagi dirumah paman Abdul. Beliau baru saja dapat cucu.

Kalau lapar tinggal buka saja lemari makan. Sudah mama sediakan.

Dari : Papa, Mama, dan Dewi.

“Uh… ternyata si centil juga ikut”. Cela Fattu terhadap Dewi, adik semata wayangnya yang kini genap berusia sembilan tahun. Mamanya dulu tidak mengira setelah Fattu berusia lima belas tahun, dirinya bakal dikarunia lagi seorang anak. Seorang adik untuk Fattu. Rezeki tak terduga itu kini menjadi pelita. Dikala Fattu beranjak dewasa, menginjakkan kaki dibangku Sekolah Menengah Atas. Urusan organisasi sekolah dan les sebagainya, kerap kali menyibukkan ia. Menyisakan sedikit waktu menemani sang bunda. Sampai akhirnya mutiara itu hadir mengisi kekosongan jiwa. Suasana rumah kembali ceria. Tingkah lucu dan ceria si centil Dewi begitu panggilan sayang sang adik tercinta, memenuhi sudut seisi rumah.

*****

Senja menggelayuti sesisi jiwa, kendati bebagai cara dan usaha telah ia coba. Gelisah masih saja mendera, dihujani banyak tanya.

“Tiga bulan terakhir ini, aku merasa kehilangan gairah”.

“Semua yang aku kerjaan terasa sia-sia”.

“Judul skripsi aku ajukan tempo hari lagi-lagi ditolak Pak Khoir”. Dosen pembimbing Fattu.

“Untuk ketiga belas kalinya pula”.

“Belum lagi, skenario-skenario ku ditolak oleh setiap rumah produksi yang aku ajukan”. Tercatat sebagai seorang mahasiswa tak sedikitpun memudarkan harapan Fattu untuk menjadi seorang penulis. Pencetak karya-karya hebat. Karya-karya Best Seller. Bentuk lain perwujudan hobi. Begitulah ia menjawab tatkala orang-orang menanyainya. Kring…. kring… suara telpon dari ruang tengah mengugah keheningan.

“Halo”. Fattu menyapa lawan bicara.

“Kak, jangan lupa makan atau mau Dewi yang suapin”.

“Uh… kamu tu ya…..”.

“Lagi sensi ni yee….”.

“Mama nyuruh Dewi mastiin kakak udah makan apa belum”.

“Kakak baru aja mau makan, eit…. taunya telpon Dewi memotong tujuan kakak ditikungan”. Gurau Fattu, menggoda sang adik.

“Ya udah gih… sana lanjutin jalannya”.

“Oh ya kak, Dewi lupa malam ini kita nginep di rumah paman Abdul. Paman Abdul nggak ngebolehin kita pulang dulu”. Dewi menambahkan.

“Nih… malem pas banget buat ngedapetin inspirasi kayaknya he…he… . OK deh, selamat berekspresi. Dag… kakak”.

“Dag… centil”.

“Nih… anak klu udah becanda. Gak tau apa kakak semata wayang mu ini diselimuti kabut gundah gulana. Celetuk fattu mengembalikan gagang telepon yang tadinya ia angkat.

*****

Gemericik hujan, desauan angin dingin menuntun fajar menyingsing. Kokokkan ayam dipagi buta, mengusik sang surya kembali kesinggasana ufuk timur.

“Assalammu’alaikum warrahmatullah, assalammu’alaikum warrahmatullah”. Salam penutup, pertanda tuntas sholat subuh di pagi ini Fattu kerjakan. Pukul lima lewat empat puluhlima menit. Semua lampu diteras ia matikan. Jendela kamarnya ia buka. Gorden hijau tersibak. Seokor ayam terlihat jelas tengah berkokok sambil memejamkan mata. Peristiwa itu mengingatkan Fattu pada sebuah buku humor yang pernah ia baca. Ayam berkokok dengan mata terpejam, sebab si ayam sudah hafal liriknya. Mengingat hal itu tak urung membuat Fattu tersenyum.

Masak, masak sendiri. Makan,makan sendiri …. Penggalan syair melow khas Caca Handika, terasa begitu pas mengawali pagi Fattu di hari ini.

*****

Pukul sebelas tigapuluh taman tempat biasa Fattu melepas lelah. Tidak biasanya bocah perempuan yang biasa ia lihat tidak nampak hari ini. Hingga adzan dzuhur berkumandang, bocah perempuan ia maksud tidak kunjung datang.

“Gun….”. Fattu memanggil Gugun teman satu fakultasnya itu dari kejauhan.

“Hai”. Gugun melambaikan tangan.

“Sudah dzuhur, yuk kita ke masjid”. Pinta Fattu sesampai Gugun didekatnya.

“Kamu duluan aja ya Fattu. Pak Khoir menunggu ku, beliau minta aku segera menyerahkan ini”. Gugun memperlihatkan lembaran kertas judul-judul skripsi untuk diajukan ke pak Khoir.

“OK, kalau begitu aku duluan ya”.

Sepulang dari masjid Fattu kembali kekampus, letaknya tak jauh seratus meter dari taman. Melalui jalan setapak. Hening, jauh dari hiruk pikuk orang-orang biasa lewat. Benda dingin menempel diliher Fattu seketika. Tiada suatu apapun mampu ia perbuat.

“Jangan melawat kalau kau sayang nyawa mu”. Seru seseorang salah satu diantaranya.

Satu orang lagi merogoh saku celana, mengambil dompet. Wal hasil uang dua ratus ribupun melayang. Fattu berhasil di perdayai, kedua makhluk bertopeng kabur meninggalkan dirinya. Belum kering luka, tertoreh garam pedih kian mengangah. Sembilu menjadikannya parah.

“Astagfirullahal’azim”. Fattu mengurut-urut dada.

“Alloh menginggatkan ku dari ke alpaan”.

“Hari ini sampai-sampai aku dipaksa, barulah aku mengeluarkannya”. Kalimat-kalimat penyesalan ia ucapkan. Sedikit membasuh rasa pedih kekecewaan. Rintik hujan memudarkan asa kekosongan jiwa. Fattu bergegas menuju podokkan beratap daun nipa. Disebelah pondokan mengalir sungai kecil berair jernih. Alirannya yang lembut, tergugah rerintikan hujan. Lapangan hijau rumput nan luas membentang di ujung sungai, pelangi membentang memayungi. Bocah perempuan berlari menuju podok tempar Fattu berteduh lengkap degan keranjang dan sapu lidi tergenggam.

“Nama adik siapa?”. Sapa Fattu.

“Wina kak”. Beritahu bocah perempua itu.

Tidak seperti biasanya tadi kakak tidak melihat adik”.

“Kebetulan hari ini wina lebih awal dari hari biasa kak. Tadi sewaktu kakak belum tiba di tempat kakak biasa duduk, wina sudah terlebih dahulu membersihkan daerah sekitar sana. Makanya kakak tidak melihat wina”. Ucap bocah perempuan berusia kurang lebih sama dengan Dewi adiknya.

“Apa adik tidak bosan setiap hari membersihkan taman ini”. Fattu kembali bertanya.

“Tidak. Wina sama sekali tidak bosan kak”.

“Benar adik sama tidak merasa bosan?. Meskipun yang setiap hari adik lakukan itu-itu saja”.

“Iya. Wina merasa senang, sebab masih banyak kok kak teman-teman wina yang kurang beruntung”.

“Memiliki semangat dan yakin. Kedua hal itu tidak boleh wina hilangkan. Wina pupuk dan jaga supaya baranya tetap menyala dan terus berkobar”. Lanjut Wina.

“Oh ya”. Wina membuat Fattu kagum.

“Iya. Wina jamin deh kak senja di awan biru gak bakalan ada”. Masa sih baru tersandung sedikit aja udah nyerah. Betulkan kak?”.

“Iya betul”. Mendengar ocehan-ocehan bocah perempuan wina tanpa sadar telah menyindir dirinya. Mengetuk batin akan sesuatu hal yang selama ini terlupakan. Bahwasannya kemampuan tidaklah cukup menjadi jaminan keberhasilan dari suatu usaha.

“Tanpa disertai semangat dan keyakinan semua hanya akan menjadikannya senja. Ya, senja. Senja di awan biru. Meyerah dikala usaha dirasa belum cukup maksimal. Tertimbun dan hayut dalam keputusasaan”. Fattu membatin.

“Permisi kak Wina duluan ya, hujannya udah redah”. Wina berlalu pergi meninggalkan Fattu termangu, larut dalam penyesalan.

“Oh iya”. Fattu terlambat mengiyakan takkala ia tersadar bocah perempuan itu berlalu pergi meninggalkan dirinya.

Ucapan-ucapan wina bagi Fattu lebih dari sekedar ocehan biasa. Berlalunya wina menerbitkan kembali inti jiwa miliknya yang dulu sempat hilang terkikis oleh waktu. Hari-hari berikut Fattu jalani dengan penuh semangat, keyakinan dan do’a. Mencoba dan terus mencoba tanpa pernah putus asa. Alih-alih profesi dari penulis skenario menjadi penulis cerpen membuahkan hasil. Kumpulan cerpen bertajuk “Senandung Insan Pilihan” miliknya, tanpa disangka menjadi best seller. Diminati pembaca tanah air. Pil pahit kekecewaan yang dulu pernah sempat ia telan, kini sirna sudah. Melahirkan Fattu yang kini percaya diri, penuh semangat, dan ceria. Senantiasa siap menghadap hari esok yang kan datang menjelang.

Selesai

Sabtu, 12 Juli 2008

09 Rajab 1429 H

By Arina_UKHTI

Manusia pada umumnya selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya.

Namun, kadangkala tanpa disadari ia kehilangan arah tujuan hidup yang berarti.

( Arina_UKHTI )