“Apa sekarang kau puas?,  kamu bahagia?”.  Ucap Rendi berapi-api.  Dina berurai airmata menyesali.  Tapi tetap tak mengubah keputusannya.
“Seperti apa perasaanku kau sama sekali tidak berhak memutuskannya. Pernahkan kau berfikir tentang perasaan Tria?  Penjelasan apa yang akan kau berikan bila suatu saat nanti ia mengetahuinya?  Bahwa wanita satu-satunya yang aku cintai adalah kau.  Apa ia akan bahagia melihat kau kakak yang ia kasihi menderita diatas kebahagiaannya.  Dan…. saat itu terjadi Tria akan benar-benar membecimu.  Tria tidak akan sanggup untuk menerima.  Ternyata kakak yang ia percaya telah menipu dirinya…  Apa itu yang kamu inginkan hah…?”.  Dina sama sekali tak bergeming.  Bahkan sekedar memandang wajah Rendi sama sekali ia tidak sanggup. (more…)