“Apa sekarang kau puas?,  kamu bahagia?”.  Ucap Rendi berapi-api.  Dina berurai airmata menyesali.  Tapi tetap tak mengubah keputusannya.
“Seperti apa perasaanku kau sama sekali tidak berhak memutuskannya. Pernahkan kau berfikir tentang perasaan Tria?  Penjelasan apa yang akan kau berikan bila suatu saat nanti ia mengetahuinya?  Bahwa wanita satu-satunya yang aku cintai adalah kau.  Apa ia akan bahagia melihat kau kakak yang ia kasihi menderita diatas kebahagiaannya.  Dan…. saat itu terjadi Tria akan benar-benar membecimu.  Tria tidak akan sanggup untuk menerima.  Ternyata kakak yang ia percaya telah menipu dirinya…  Apa itu yang kamu inginkan hah…?”.  Dina sama sekali tak bergeming.  Bahkan sekedar memandang wajah Rendi sama sekali ia tidak sanggup.

Ceglek….. Eri memencet remot mematikan televisi.  Tangan mengaruk-garuk kepala yang sebernarnya tidak gatal.  Eri lunglai bak kehilangan semangat hidup.  “Uh…. gini nih, gimana abege gak pada betah dirumah.  Cinta-cinta.  Everything about love”.  Komentar Eri sewot.  Matanya sudah ngotot minta di istirahatkan, belum juga mau ia wujudkan.  “Skak…”.  Ayahnya berseru.  Asyik main catur bersama mas Danto.  Pemuda kontrakan sebelah.  Mahasiswa Teknisi Komputer Politknik Unsri.  Usianya sebaya sebaya denganku.   Setiap kali komputer di rumah error, bahkan sempat beberapa kali virusan mas Danto tidak pernah sungkan tatkala dimintai bantuan.  “Supel, baik, dan ramah …”.  Seperti itulah bunda dan ayah kerap memuji.  Perlahan berjalan kekamar bukan untuk tidur. Jempol kanan memencet power, cahaya putih layar segi empat menyala terang menerpa wajahnya.  Mata dan tangannya singgap menari diatas keyboard memasukan password e-mail barang kali ada pesan masuk.   One message pada inbox.  Ada pesan masuk.  Sigap Eri mngklik kolom inbox dan terbukalah pesan.  Sahabat Eri Yanuar di Surabaya mengirim sebuah pesan untuk dirinya.

Assalammu’alaikum
Apa kabar dinda sudah lama tidak berjumpa.  Masih suka nyebur keempang?  Tiga puluh menit lagi Yayan online.  Yayan mau cerita-cerita.  Ditunggu ya….
Wassalam

By : Yayan

“Bertahun-tahun telah berlalu masih juga ia memanggilku dengan nama itu.  Salah sendiri, dulu bibi Ratna menawarkan mengangkat adik angkat untuk mas yayan.  Eh… malah dianya ogah”.  Setiap kali ditanya “Ma yayankan udah punya dinda Eri”.   Kontan saja bibi Ratna dibuat puyeng dengan tingkah pola dirinya.  Untung saja semua dipermudah mengingat bunda dan bibi Ratna adalah teman semasa SMU dulu.  Aku sih seneng saja punya kakak.  Umurku dan mas yayan hanya terpaut dua tahun.  Dulu aku lebih sering memanggilkan yayan saja.  Tapi kata bunda itu tidak sopan, harus panggil mas yayan.  Sekarang seperti apa ya kira-kira tampangnya?  Apakah gendut ataukah kurus?  Pikiran itu terlintas begitu saja.  Aku tersenyum menggambarkan sosok mas yayan.  Maklumlah sejak kepindahannya sepuluh tahun yang lalu.  Satukalipun kami belum lagi bertemu.  Kalau tidak lewat e-mail pastilah ia telepon.  Aku heran saja kenapa akhir-akhir ini ia mendadak kembali ingat memanggilku dengan panggilan itu.  Ya… sudahlah kalau gak iseng bukan pula mas yayan namanya.  Tiga puluh menit berlalu.  E-mail mas yayan kembali masuk, ia memberikan name chatt online miliknya.  Aku membalas e-mail mas yayan mengirimkan name chat milikku.  Beberapa menit kemudian kami terhubung.  Seperti biasa diawali dengan salam.

yayan_hEre    :    Apa kabar Eri?
salam_Eri    :    Baik.  Alhamdulilllah.
yayan_hEre    :    Bagaimana kedaan disana, pasti sudah berbeda jauh dari yang dulu ya?
salam_Eri    :    Benar, banyak hal yang sudah berubah disini.  Udara tidak lagi sesejuk dulu.  Bagaimana kabar Om dan tante?
yayan_hEre    :    Baik.  Alhamdulillah.  Termasuk yang lagi online.
salam_Eri    :    O…o… ada yang sewot kayaknya…. Peace dong….
yayan_hEre    :    Bulan depan insya’alloh mas, papa dan mama mau soan kesana.  Sudah lama rasanya rindu kampung halaman.  Apa Eri sedang lagi tidak disibukkan dengan kuliah bulan depan?
salam_Eri    :    Ehm… bagaimana ya ?  Eri belum tahu mas.
yayan_hEre    :    Begitu ya.  Tapi diusahain sebisa mungkin supaya kita semua bisa ngumpul.  Jarang-jarang loh momen kebersamaan itu ada.
salam_Eri    :    Ha..ha…ha… kayak orang mau ngumumin undangan pernikahan aja mas….. (seloroh Eri).
yayan_hEre    :    Klo…. emang beneran kenapa?
salam_Eri    :    Wah… itu baru namanya kabar baik.
yayan_hEre    :    Amiin.  Ya sudah mas mau lanjut kerja dulu nih…. salam buat keluarga disana dari mas dan keluarga disini.  Wassalam.

Klik.  Eri mengklosing.  Komputer ia matikan.  Kantuk yang mendera membuat tubuhnya tak kuat lagi menahan lebih lama untuk segera dibaringkan.  Aku ingin mengistirahatkan tubuh ini walaupun itu hanya sejenak.

*****

Penghujung bulan Mei menghadirkan udara pagi sejuk nan cerah.   Permadani alam rumput menghijau terhampar luas membentang dikelilingi pepohon diantara celah-celah bukit berlapis.  Mata takkan berkedip menggulirkan kalimat tasbih melukiskan betapa indah Maha karya sang Khalik.  Mengisyaratkan betapa tiada artinya diri kita sebagai manusia seberapapun hebat dan jenius.  Yang sesungguhnya itu hanyalah sebagian kecil dari Dirinya yang ia rahmatkan kepada kita manusia sebagai khalifah di bumi.
”Subhanallah Yanti…. luarbiasa indah”.   Ucap Eri kepada Yanti yang tengah larut dalam desah kekaguman.  Mata Yanti tak berkedip sedikitpun sama halnya dengan Eri.  Keduanya duduk bersebelahan.  Namun, tidak saling memandang.  Hanya ada decak, hanya ada kagum diwakilkan oleh kata bergulir bertautan.
”Kau benar.  Sungguh-sungguh luarbiasa indah”.
“Dari sekian banyak keindahan dulu hanya inilah yang masih tersisa.  Semoga saja tempat ini tidak ditanami gedung juga”.
”Ya. Mudah-mudahan tetap berjodoh”.
”Jodoh.  Apakah semuanya harus dilatari jodoh”.  Yanti tegugah dari keheningan mendengar kalimat yang lontarkan Eri.
”Tentu”.  Eri membenarkan posisi jilbab lantaran tertiup angin.
”Kita akan menyadari setelah kita mengalaminya”.  Lanjut Eri.
”Kamu ingat Yan, andai saja dulu dompet kamu tidak jatuh. Andai saja aku tidak lewat melalui jalan itu yang sebenarnya saat itu aku benar-benar tidak kuat lagi untuk berjalan.  Dan memilih untuk sejenak beristirahat.  Entah kenapa aku masih sanggup dan terus melangkah.  Andai saja bukan aku orang yang menemukan.  Andai saja tidak ada KTP di dalamnya.  Bagaimana aku bisa aku kembalikan.  Bagaimana pula kita bisa kenal.  Jika, bukan karena literatur skenario alur jodoh yang diatur Alloh sedemikianrupa untuk mempertemukanku dengan seseorang yang bernama sahabat”.  Eri memamparkan kronologi berjumpaan mereka.
”Benar.  Kun’faya kun.  Tidak ada yang mustahil bagi-Nya.  Apapun bisa terjadi diluar logika nalar manusia.  Setelah kejadian itu kita semakin sering bertemu, bercerita, dan tanpa disadari sebelumnya ternyata kita mendaftar kuliah pada kampus yang sama.  Kita berdua lulus.  Lalu akhirnya kita memutuskan kenapa tidak satu kostsan”.
”Lalu bagaimana pendapatmu jodoh dalam arti sebenarnya”.  Yanti kembali bertanya.
”Maksudnya”.  Sahut Eri belum memahami maksud Yanti.
”Pasangan hidup”.
”Yakin dan percaya semua sudah ada jodohnya masing-masing.  Termasuk di dalamnya untukmu dan untukku.  Akan datang hari yang tepat berdasarkan standar ketepatan waktu yang digarisi-Nya.  Bukan standar ketepatan manusia”.
’Bagaimana kita bisa menemukannya bila aktifitas pacaran tidak dijalani”.  Yanti mengangkat kedua tangan mengacungkan telunjuk dan jari tengah secara bersamaan kiri dan kanan.  Membentuk tanda kutip pada kalimat pacaran yang ia ucap.
”Memangnya sudah berapa kali kamu pacaran?”.  Tanya Eri penasaran ingin tahu.
”Lima kali.  Itupun sebelum aku bertemu kamu.  Dan kau memberitahuku hal-hal apa saja yang baik dilakukan”.
”Dengan begitu apakah pada akhirnya jodoh yang dimaksud akhirnya kamu temukan”.  Kembali Eri bertanya.
”Tidak.  Justru bonus yang aku dapatkan”.
”O..ya, apa itu”.
“Patah hati”.  Jawab Yanti secepat kilat.
“O…o…”.  Eri membulat.
”Kau sendiri lebih baik memilih atau dipilihkan?”.
“Kalau kenyataan dipilihkan jauh lebih baik, kenapa tidak”.
“Milih dijodohin nih…”.  Yanti sengaja menyenggolkan sikutnya menggoda Eri.
“Yan, sore ini jadi balik ke Tanjung Raja?”.  Eri mengalihkan topik membicaraan.
”Iya jadi.  Enggak terasa satu minggu bergulir cepat.  Rasa-rasanya baru kemarin aku tiba disini.  Tersisa dua hari aku harus bersiap diri, sabtu ini kita sudah harus berangkat. Mengadakan riset, magang di Rumah Sakit Tokyo, Jepang selama tiga bulan.  Ituloh, yang didekat gunung fuji.  Asyikan.  Ketemuan di bandara ya?”.
”Ya.  Cahaya matahari mulai terik.  Sebaiknya kita pulang.  Kamu juga mau bersiap-siapkan. Yuk..”.  ajak Eri.  Yanti mengangguk.  Keduanya berjalan menenteng sepeda menelusuri jalan setapak berkelikil.  Menjelang sore sang surya pelahan mulai condong.  Yanti berpamitan kepada kedua orang tua Eri.  Seperti janjinya Eri mengantarkan keberangkatan sahabatnya.  Menuju tempat pemesan tiket travel sesuai dengan tujuan keberangkatan.  Selang setengah jam kemudian mobil travel tiba menjemput Yanti.  Eri melepas keberangkatan sahabatnya dengan pelukan hangat seorang sahabat.  ”Bukan pepisahan untuk selamanya melainkan awal dari perjumpaan dilain waktu yang insya’alloh lebih baik. Amiin”.  Eri membatin.

*****

Sabtu pagi menyiratkan secercah cahaya cerah ceria.  Angin menyapa membelai lembut putihnya awan.  Mengguratkan seulas senyum memberi pesona, mengalunkan nada tapi tak bersuara, hadirkan makna seolah menyapa selamat pagi Eri.  “Selamat pagi dunia, aku siap menjalani rutinitasku hari ini”.  Koper pakaian, perlengkapan keperluan disana ia pastikan tidak ada yang tertinggal.  Kontrakkan sebelah masih terkunci rapat.  Mas Danto masih belum juga kembali dari Lahat.  Eri melampaikan tangan pada bunda saat mobil yang dibawa ayahanda tercinta melaju pelahan meninggalkan rumah. Bundanya tidak bisa ikut jadi hanya ayah saja yang bisa menghantar kepergiaan dirinya.  Bunda bilang akan ada tamu penting sebentar lagi akan tiba, dengan berat hati bunda tidak bisa ikut.  ”Nanti kalau harus menunggu kamu bisa terlambat”.  Ucap bunda.  Setibanya di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II.  Kumpulan Mahasiswa Universitas Kesehatan Palembang dengan almamater biru muda berkerumun tengah diabsen.  Yanti melambaikan tangan, Eri membalas lambaiannya.  Ia mempercepat langkah bergabung disana.  Dritt…..drit….. handphone miliknya berderit.

”Sebentar bun Eri periksa.  Iya bun, buku agendanya tidak ada.  Bagaimana ya ?”.  Eri kebingungan.  Baginya itu bukan hanya sekedar sebuah buku.  Tapi, juga merupakan denyut nafas kehidupan.  Disana terhimpun setumpuk agenda rancangan masa depan.   Salah satu diantaranya menikah pada saat usia duapuluh tiga tahun.
”Jangan panik dong sayang.  Bunda sudah titipkan pada seseorang, sebentar lagi mungkin akan tiba disana”.  Ucap bunda menenangkan.
”Titipkan pada siapa ya kira-kira.  Kenapa tadi aku tidak menanyakan?”.
Ditengah kegalauannya ia melihat sosok pemuda gagah bertopi mengenakan kemeja lengan panjang berjarak kurang lebih lima meter dari posisi tempat ia bendiri.   pemuda itu tampak sedang menanyakan sesuatu pada teman salah satu rombongannya.  Eri memutuskan untuk duduk sembari menunggu seseorang yang dimaksudkan bunda.  Tanpa Eri duga, bahkan berfikirpun tidak.  Sosok pemuda yang sempat tadi ia lihat menghampiri dirinya.

”Assalammu’alaikum.  Apa benar kamu yang bernama Eri?”.   Ucap si pemuda beruntun.  ”Wa’alaikumsalam.  Iya benar saya sendiri”.  Bangkit berdiri, menjawab dengan tergagap.
”Ini bunda menitipkan sesuatu buat kamu.  Tenang, sama sekali aku tidak aku buka kok”.  Si pemuda menegaskan sembari menyodorkan agenda milik milik Eri yang dititipkan oleh sang bunda.Kepada para penumpang Sriwijaya Air dengan tujuan penerbangan ke Jepang harap segera memasuki pesawat…..  Suara seruan pemberitahuan menggema membahana.  ”Sepertinya kamu akan take off.  Saya permisi”.  Si pemuda berpamitan.
”Aneh, kok dia tahu kalau tujuan keberangkatanku adalah Jepang.  Lalu, kenapa pula ia menyebut bunda dengan sapaan bunda?”.  Eri berusaha menemukan jawaban.
”Ya sudahlah.  Rasanya itu tidak penting”.

Tiga bulan berlalu.  Kepulangan ke Indonesia meleset satu minggu dari perencanaan awal.  Eri lekas memberitahu bunda dan ayahanda perihal pengunduran hari kepulangannya.  Ia tidak ingin keduanya cemas dan khawatir.  Saat baru akan memenjet, handphonenya berderit panggilan masuk dari bunda tersayang.  Dirinya kedahuluan oleh bunda tersayang.

”Wa’alaikumsalam”.  Sahut Eri membalas salam.
”Bagaimana dengan rencana kepulanganmu besok sayang?”.
”Ananda baru saja mendapat kabar, bahwa jadwal kepulangan diundur satu minggu.  Ada beberapa tugas yang terpaksa harus dipending,  disebabkan cuaca kurang mendukung”.
”Begini, sebenarnya bunda dan ayah bernaksud membicarakan ini setelah kepulanganmu.  Tapi, bunda rasa saat ini sudah merupakan waktu yang tepat untuk memberitahumu”.  Desah bunda berat menyampaikan.
”Perihal apakah itu bunda?”. BERSAMBUNG Ke bagian 2….