<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Forum Studi Islam Palembang</title>
	<atom:link href="http://fosipalembang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fosipalembang.wordpress.com</link>
	<description>Jln.Swadaya RT.44 RW.13 Pakjo Kel.Srijaya, Kec.Sukarame, Palembang, Sumatera Selatan Telp.0711-7080247</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2011 07:02:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fosipalembang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Forum Studi Islam Palembang</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fosipalembang.wordpress.com/osd.xml" title="Forum Studi Islam Palembang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fosipalembang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CANDA Calon Adinda ( bag.1 )</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/11/13/canda-calon-adinda-bag1/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/11/13/canda-calon-adinda-bag1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[“Apa sekarang kau puas?,  kamu bahagia?”.  Ucap Rendi berapi-api.  Dina berurai airmata menyesali.  Tapi tetap tak mengubah keputusannya. “Seperti apa perasaanku kau sama sekali tidak berhak memutuskannya. Pernahkan kau berfikir tentang perasaan Tria?  Penjelasan apa yang akan kau berikan bila suatu saat nanti ia mengetahuinya?  Bahwa wanita satu-satunya yang aku cintai adalah kau.  Apa ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=101&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apa sekarang kau puas?,  kamu bahagia?”.  Ucap Rendi berapi-api.  Dina berurai airmata menyesali.  Tapi tetap tak mengubah keputusannya.<br />
“Seperti apa perasaanku kau sama sekali tidak berhak memutuskannya. Pernahkan kau berfikir tentang perasaan Tria?  Penjelasan apa yang akan kau berikan bila suatu saat nanti ia mengetahuinya?  Bahwa wanita satu-satunya yang aku cintai adalah kau.  Apa ia akan bahagia melihat kau kakak yang ia kasihi menderita diatas kebahagiaannya.  Dan&#8230;. saat itu terjadi Tria akan benar-benar membecimu.  Tria tidak akan sanggup untuk menerima.  Ternyata kakak yang ia percaya telah menipu dirinya…  Apa itu yang kamu inginkan hah&#8230;?”.  Dina sama sekali tak bergeming.  Bahkan sekedar memandang wajah Rendi sama sekali ia tidak sanggup.<span id="more-101"></span></p>
<p>Ceglek….. Eri memencet remot mematikan televisi.  Tangan mengaruk-garuk kepala yang sebernarnya tidak gatal.  Eri lunglai bak kehilangan semangat hidup.  “Uh…. gini nih, gimana abege gak pada betah dirumah.  Cinta-cinta.  Everything about love”.  Komentar Eri sewot.  Matanya sudah ngotot minta di istirahatkan, belum juga mau ia wujudkan.  “Skak…”.  Ayahnya berseru.  Asyik main catur bersama mas Danto.  Pemuda kontrakan sebelah.  Mahasiswa Teknisi Komputer Politknik Unsri.  Usianya sebaya sebaya denganku.   Setiap kali komputer di rumah error, bahkan sempat beberapa kali virusan mas Danto tidak pernah sungkan tatkala dimintai bantuan.  “Supel, baik, dan ramah …”.  Seperti itulah bunda dan ayah kerap memuji.  Perlahan berjalan kekamar bukan untuk tidur. Jempol kanan memencet power, cahaya putih layar segi empat menyala terang menerpa wajahnya.  Mata dan tangannya singgap menari diatas keyboard memasukan password e-mail barang kali ada pesan masuk.   One message pada inbox.  Ada pesan masuk.  Sigap Eri mngklik kolom inbox dan terbukalah pesan.  Sahabat Eri Yanuar di Surabaya mengirim sebuah pesan untuk dirinya.</p>
<p>Assalammu’alaikum<br />
Apa kabar dinda sudah lama tidak berjumpa.  Masih suka nyebur keempang?  Tiga puluh menit lagi Yayan online.  Yayan mau cerita-cerita.  Ditunggu ya….<br />
Wassalam</p>
<p>By : Yayan</p>
<p>“Bertahun-tahun telah berlalu masih juga ia memanggilku dengan nama itu.  Salah sendiri, dulu bibi Ratna menawarkan mengangkat adik angkat untuk mas yayan.  Eh… malah dianya ogah”.  Setiap kali ditanya “Ma yayankan udah punya dinda Eri”.   Kontan saja bibi Ratna dibuat puyeng dengan tingkah pola dirinya.  Untung saja semua dipermudah mengingat bunda dan bibi Ratna adalah teman semasa SMU dulu.  Aku sih seneng saja punya kakak.  Umurku dan mas yayan hanya terpaut dua tahun.  Dulu aku lebih sering memanggilkan yayan saja.  Tapi kata bunda itu tidak sopan, harus panggil mas yayan.  Sekarang seperti apa ya kira-kira tampangnya?  Apakah gendut ataukah kurus?  Pikiran itu terlintas begitu saja.  Aku tersenyum menggambarkan sosok mas yayan.  Maklumlah sejak kepindahannya sepuluh tahun yang lalu.  Satukalipun kami belum lagi bertemu.  Kalau tidak lewat e-mail pastilah ia telepon.  Aku heran saja kenapa akhir-akhir ini ia mendadak kembali ingat memanggilku dengan panggilan itu.  Ya… sudahlah kalau gak iseng bukan pula mas yayan namanya.  Tiga puluh menit berlalu.  E-mail mas yayan kembali masuk, ia memberikan name chatt online miliknya.  Aku membalas e-mail mas yayan mengirimkan name chat milikku.  Beberapa menit kemudian kami terhubung.  Seperti biasa diawali dengan salam.</p>
<p>yayan_hEre    :    Apa kabar Eri?<br />
salam_Eri    :    Baik.  Alhamdulilllah.<br />
yayan_hEre    :    Bagaimana kedaan disana, pasti sudah berbeda jauh dari yang dulu ya?<br />
salam_Eri    :    Benar, banyak hal yang sudah berubah disini.  Udara tidak lagi sesejuk dulu.  Bagaimana kabar Om dan tante?<br />
yayan_hEre    :    Baik.  Alhamdulillah.  Termasuk yang lagi online.<br />
salam_Eri    :    O&#8230;o&#8230; ada yang sewot kayaknya&#8230;. Peace dong&#8230;.<br />
yayan_hEre    :    Bulan depan insya’alloh mas, papa dan mama mau soan kesana.  Sudah lama rasanya rindu kampung halaman.  Apa Eri sedang lagi tidak disibukkan dengan kuliah bulan depan?<br />
salam_Eri    :    Ehm&#8230; bagaimana ya ?  Eri belum tahu mas.<br />
yayan_hEre    :    Begitu ya.  Tapi diusahain sebisa mungkin supaya kita semua bisa ngumpul.  Jarang-jarang loh momen kebersamaan itu ada.<br />
salam_Eri    :    Ha..ha&#8230;ha&#8230; kayak orang mau ngumumin undangan pernikahan aja mas&#8230;.. (seloroh Eri).<br />
yayan_hEre    :    Klo&#8230;. emang beneran kenapa?<br />
salam_Eri    :    Wah&#8230; itu baru namanya kabar baik.<br />
yayan_hEre    :    Amiin.  Ya sudah mas mau lanjut kerja dulu nih&#8230;. salam buat keluarga disana dari mas dan keluarga disini.  Wassalam.</p>
<p>Klik.  Eri mengklosing.  Komputer ia matikan.  Kantuk yang mendera membuat tubuhnya tak kuat lagi menahan lebih lama untuk segera dibaringkan.  Aku ingin mengistirahatkan tubuh ini walaupun itu hanya sejenak.</p>
<p>*****</p>
<p>Penghujung bulan Mei menghadirkan udara pagi sejuk nan cerah.   Permadani alam rumput menghijau terhampar luas membentang dikelilingi pepohon diantara celah-celah bukit berlapis.  Mata takkan berkedip menggulirkan kalimat tasbih melukiskan betapa indah Maha karya sang Khalik.  Mengisyaratkan betapa tiada artinya diri kita sebagai manusia seberapapun hebat dan jenius.  Yang sesungguhnya itu hanyalah sebagian kecil dari Dirinya yang ia rahmatkan kepada kita manusia sebagai khalifah di bumi.<br />
”Subhanallah Yanti&#8230;. luarbiasa indah”.   Ucap Eri kepada Yanti yang tengah larut dalam desah kekaguman.  Mata Yanti tak berkedip sedikitpun sama halnya dengan Eri.  Keduanya duduk bersebelahan.  Namun, tidak saling memandang.  Hanya ada decak, hanya ada kagum diwakilkan oleh kata bergulir bertautan.<br />
”Kau benar.  Sungguh-sungguh luarbiasa indah”.<br />
“Dari sekian banyak keindahan dulu hanya inilah yang masih tersisa.  Semoga saja tempat ini tidak ditanami gedung juga”.<br />
”Ya. Mudah-mudahan tetap berjodoh”.<br />
”Jodoh.  Apakah semuanya harus dilatari jodoh”.  Yanti tegugah dari keheningan mendengar kalimat yang lontarkan Eri.<br />
”Tentu”.  Eri membenarkan posisi jilbab lantaran tertiup angin.<br />
”Kita akan menyadari setelah kita mengalaminya”.  Lanjut Eri.<br />
”Kamu ingat Yan, andai saja dulu dompet kamu tidak jatuh. Andai saja aku tidak lewat melalui jalan itu yang sebenarnya saat itu aku benar-benar tidak kuat lagi untuk berjalan.  Dan memilih untuk sejenak beristirahat.  Entah kenapa aku masih sanggup dan terus melangkah.  Andai saja bukan aku orang yang menemukan.  Andai saja tidak ada KTP di dalamnya.  Bagaimana aku bisa aku kembalikan.  Bagaimana pula kita bisa kenal.  Jika, bukan karena literatur skenario alur jodoh yang diatur Alloh sedemikianrupa untuk mempertemukanku dengan seseorang yang bernama sahabat”.  Eri memamparkan kronologi berjumpaan mereka.<br />
”Benar.  Kun’faya kun.  Tidak ada yang mustahil bagi-Nya.  Apapun bisa terjadi diluar logika nalar manusia.  Setelah kejadian itu kita semakin sering bertemu, bercerita, dan tanpa disadari sebelumnya ternyata kita mendaftar kuliah pada kampus yang sama.  Kita berdua lulus.  Lalu akhirnya kita memutuskan kenapa tidak satu kostsan”.<br />
”Lalu bagaimana pendapatmu jodoh dalam arti sebenarnya”.  Yanti kembali bertanya.<br />
”Maksudnya”.  Sahut Eri belum memahami maksud Yanti.<br />
”Pasangan hidup”.<br />
”Yakin dan percaya semua sudah ada jodohnya masing-masing.  Termasuk di dalamnya untukmu dan untukku.  Akan datang hari yang tepat berdasarkan standar ketepatan waktu yang digarisi-Nya.  Bukan standar ketepatan manusia”.<br />
’Bagaimana kita bisa menemukannya bila aktifitas pacaran tidak dijalani”.  Yanti mengangkat kedua tangan mengacungkan telunjuk dan jari tengah secara bersamaan kiri dan kanan.  Membentuk tanda kutip pada kalimat pacaran yang ia ucap.<br />
”Memangnya sudah berapa kali kamu pacaran?”.  Tanya Eri penasaran ingin tahu.<br />
”Lima kali.  Itupun sebelum aku bertemu kamu.  Dan kau memberitahuku hal-hal apa saja yang baik dilakukan”.<br />
”Dengan begitu apakah pada akhirnya jodoh yang dimaksud akhirnya kamu temukan”.  Kembali Eri bertanya.<br />
”Tidak.  Justru bonus yang aku dapatkan”.<br />
”O..ya, apa itu”.<br />
“Patah hati”.  Jawab Yanti secepat kilat.<br />
“O&#8230;o&#8230;”.  Eri membulat.<br />
”Kau sendiri lebih baik memilih atau dipilihkan?”.<br />
“Kalau kenyataan dipilihkan jauh lebih baik, kenapa tidak”.<br />
“Milih dijodohin nih&#8230;”.  Yanti sengaja menyenggolkan sikutnya menggoda Eri.<br />
“Yan, sore ini jadi balik ke Tanjung Raja?”.  Eri mengalihkan topik membicaraan.<br />
”Iya jadi.  Enggak terasa satu minggu bergulir cepat.  Rasa-rasanya baru kemarin aku tiba disini.  Tersisa dua hari aku harus bersiap diri, sabtu ini kita sudah harus berangkat. Mengadakan riset, magang di Rumah Sakit Tokyo, Jepang selama tiga bulan.  Ituloh, yang didekat gunung fuji.  Asyikan.  Ketemuan di bandara ya?”.<br />
”Ya.  Cahaya matahari mulai terik.  Sebaiknya kita pulang.  Kamu juga mau bersiap-siapkan. Yuk..”.  ajak Eri.  Yanti mengangguk.  Keduanya berjalan menenteng sepeda menelusuri jalan setapak berkelikil.  Menjelang sore sang surya pelahan mulai condong.  Yanti berpamitan kepada kedua orang tua Eri.  Seperti janjinya Eri mengantarkan keberangkatan sahabatnya.  Menuju tempat pemesan tiket travel sesuai dengan tujuan keberangkatan.  Selang setengah jam kemudian mobil travel tiba menjemput Yanti.  Eri melepas keberangkatan sahabatnya dengan pelukan hangat seorang sahabat.  ”Bukan pepisahan untuk selamanya melainkan awal dari perjumpaan dilain waktu yang insya’alloh lebih baik. Amiin”.  Eri membatin.</p>
<p>*****</p>
<p>Sabtu pagi menyiratkan secercah cahaya cerah ceria.  Angin menyapa membelai lembut putihnya awan.  Mengguratkan seulas senyum memberi pesona, mengalunkan nada tapi tak bersuara, hadirkan makna seolah menyapa selamat pagi Eri.  “Selamat pagi dunia, aku siap menjalani rutinitasku hari ini”.  Koper pakaian, perlengkapan keperluan disana ia pastikan tidak ada yang tertinggal.  Kontrakkan sebelah masih terkunci rapat.  Mas Danto masih belum juga kembali dari Lahat.  Eri melampaikan tangan pada bunda saat mobil yang dibawa ayahanda tercinta melaju pelahan meninggalkan rumah. Bundanya tidak bisa ikut jadi hanya ayah saja yang bisa menghantar kepergiaan dirinya.  Bunda bilang akan ada tamu penting sebentar lagi akan tiba, dengan berat hati bunda tidak bisa ikut.  ”Nanti kalau harus menunggu kamu bisa terlambat”.  Ucap bunda.  Setibanya di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II.  Kumpulan Mahasiswa Universitas Kesehatan Palembang dengan almamater biru muda berkerumun tengah diabsen.  Yanti melambaikan tangan, Eri membalas lambaiannya.  Ia mempercepat langkah bergabung disana.  Dritt&#8230;..drit&#8230;.. handphone miliknya berderit.</p>
<p>”Sebentar bun Eri periksa.  Iya bun, buku agendanya tidak ada.  Bagaimana ya ?”.  Eri kebingungan.  Baginya itu bukan hanya sekedar sebuah buku.  Tapi, juga merupakan denyut nafas kehidupan.  Disana terhimpun setumpuk agenda rancangan masa depan.   Salah satu diantaranya menikah pada saat usia duapuluh tiga tahun.<br />
”Jangan panik dong sayang.  Bunda sudah titipkan pada seseorang, sebentar lagi mungkin akan tiba disana”.  Ucap bunda menenangkan.<br />
”Titipkan pada siapa ya kira-kira.  Kenapa tadi aku tidak menanyakan?”.<br />
Ditengah kegalauannya ia melihat sosok pemuda gagah bertopi mengenakan kemeja lengan panjang berjarak kurang lebih lima meter dari posisi tempat ia bendiri.   pemuda itu tampak sedang menanyakan sesuatu pada teman salah satu rombongannya.  Eri memutuskan untuk duduk sembari menunggu seseorang yang dimaksudkan bunda.  Tanpa Eri duga, bahkan berfikirpun tidak.  Sosok pemuda yang sempat tadi ia lihat menghampiri dirinya.</p>
<p>”Assalammu’alaikum.  Apa benar kamu yang bernama Eri?”.   Ucap si pemuda beruntun.  ”Wa’alaikumsalam.  Iya benar saya sendiri”.  Bangkit berdiri, menjawab dengan tergagap.<br />
”Ini bunda menitipkan sesuatu buat kamu.  Tenang, sama sekali aku tidak aku buka kok”.  Si pemuda menegaskan sembari menyodorkan agenda milik milik Eri yang dititipkan oleh sang bunda.Kepada para penumpang Sriwijaya Air dengan tujuan penerbangan ke Jepang harap segera memasuki pesawat&#8230;..  Suara seruan pemberitahuan menggema membahana.  ”Sepertinya kamu akan take off.  Saya permisi”.  Si pemuda berpamitan.<br />
”Aneh, kok dia tahu kalau tujuan keberangkatanku adalah Jepang.  Lalu, kenapa pula ia menyebut bunda dengan sapaan bunda?”.  Eri berusaha menemukan jawaban.<br />
”Ya sudahlah.  Rasanya itu tidak penting”.</p>
<p>Tiga bulan berlalu.  Kepulangan ke Indonesia meleset satu minggu dari perencanaan awal.  Eri lekas memberitahu bunda dan ayahanda perihal pengunduran hari kepulangannya.  Ia tidak ingin keduanya cemas dan khawatir.  Saat baru akan memenjet, handphonenya berderit panggilan masuk dari bunda tersayang.  Dirinya kedahuluan oleh bunda tersayang.</p>
<p>”Wa’alaikumsalam”.  Sahut Eri membalas salam.<br />
”Bagaimana dengan rencana kepulanganmu besok sayang?”.<br />
”Ananda baru saja mendapat kabar, bahwa jadwal kepulangan diundur satu minggu.  Ada beberapa tugas yang terpaksa harus dipending,  disebabkan cuaca kurang mendukung”.<br />
”Begini, sebenarnya bunda dan ayah bernaksud membicarakan ini setelah kepulanganmu.  Tapi, bunda rasa saat ini sudah merupakan waktu yang tepat untuk memberitahumu”.  Desah bunda berat menyampaikan.<br />
”Perihal apakah itu bunda?”. <strong>BERSAMBUNG Ke bagian 2&#8230;.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=101&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/11/13/canda-calon-adinda-bag1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senja di Awan Biru</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/27/senja-di-awan-biru/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/27/senja-di-awan-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 13:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Menapaki bulan Juni, perlahan hawa panas jelang kemarau menyergap. Fattur alias Fattu begitu teman-teman kerap menyapa. Pria berkaca mata duduk menyendiri dikursi taman terbuat dari besi berukir, ia tidak merasakan sama sekali hawa panas itu. Dibawah rerimbunan pohon pinus berjajar nan rapi menyusuri jalan berkerikil dengan lebar dua meter. Dalam suasana yang lumayan cukup panas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=76&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menapaki bulan Juni, perlahan hawa panas jelang kemarau menyergap.<span> </span>Fattur alias Fattu begitu teman-teman kerap menyapa.<span> </span>Pria berkaca mata duduk menyendiri dikursi taman terbuat dari besi berukir, ia tidak merasakan sama sekali hawa panas itu.<span> </span>Dibawah rerimbunan pohon pinus berjajar nan rapi menyusuri jalan berkerikil dengan lebar dua meter.<span> </span>Dalam suasana yang lumayan cukup panas rerumputan masih tumbuh menghijau.<span> </span>Solah-olah tiada lelah memberikan kesejukan kepada setiap sorot mata yang memandang.<span> </span>Kursi taman terbuat dari besi berjajar agak berjauhan menghadap jalan, salah satu kursi itu tengah ia duduki kini.<span> </span>Mata Fattu memandang lekat kerikil-kerikil yang bertebaran dijalan.</span><span id="more-76"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kenapa kerikil-kerikil itu harus ada?.<span> </span>Tanah yang kuning itu, pastilah akan lebih indah dengan ketiadaan mereka”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Keluhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Terpaan hangat terik mentari malu-malu menyelinap disela-sela rerimbun daun pohon pinus.<span> </span>Sesekali daun pohon pinus kering jatuh seiring sapaan lembut sang angin.<span> </span>Lelah Fattu duduk memandang kerikil-kerikil dijalan, kini ia berbaring seperti biasa yang sering ia lakukan.<span> </span>Tas punggung mahasiswa fakultas sastra itu ia jadikan penyanggah kepala.<span> </span>Fattu menghela nafas dalam-dalam, perlahan mata ia pejamkan dengan tangan menyilang kedada.<span> </span>Terpaan angin menerpa dedaun pohon pinus menimbulkan gesekan sesamanya, membentuk suatu alunan melodi indah.<span> </span>Menjadi nyanyian penghantar Fattu dalam lelap tidurnya.<span> </span>Detik-detik berlalu tergantikan oleh menit.<span> </span>Sehelai daun pinus jatuh tepat diatas lengan Fattu.<span> </span>Ia terjaga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Daun pinus ini belum cukup tua untuk gugur.<span> </span>Warnanya masih kehijauan”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Ucap Fattu bangkit kembali duduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bocah perempuan membawa sapu lidi beserta keranjang sampah erat tergenggam di tangan kanan.<span> </span>Mengalihkan pandangan Fattu. <span> </span>Matanya tertuju pada arloji tangan yang ia kenakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Sudah jam sebelas tiga puluh rupanya.<span> </span>Pantas saja bocah itu sudah datang”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Fattu sama sekali tidak mengira, cukup lama juga ia terlelap.<span> </span>Ia bergegas beranjak pergi.<span> </span>Berjalan kaki menjuju kampus yang letaknya tak jauh menghadap utara diujung taman.<span> </span>Cukup sepuluh menit, maka ia pun sampai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tiba dihalaman rumah panggung dengan corak khas ornamen kayu.<span> </span>Bambu berdaun hijau runcing memanjang tumbuh merapat disela-sela tembok pagar mengitari rumah.<span> </span>Membuat mata siapapun betah berlama-lama memadangi rerimbunnya.<span> </span>Motor vespa miliknya ia parkir dibawah rumah.<span> </span>Satu persatu anak tangga yang tingginya kurang lebih dua meter ia daki.<span> </span>Ting tong.<span> </span>Bel rumah ia pencet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Assalammu’alaikum”.<span> </span>Fattu menyeru agar dibukakan pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Apa tidak ada orang dirumah ya?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Utung saja kunci serep selalu aku bawa.<span> </span>Tapi semua orang pada kemana?”.<span> </span>Ucap Fattu keherenan.<span> </span>Ia masuk kedalam usai meletakkan sepatu dirak.<span> </span>Makhluk bertinggi sedang itu menuju kamarnya.<span> </span>Diatas meja belajar ada memo sengaja ditinggal untuk dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk : Fattu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kita sekarang lagi dirumah paman Abdul.<span> </span>Beliau baru saja dapat cucu.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau lapar tinggal buka saja lemari makan.<span> </span>Sudah mama sediakan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari : Papa, Mama, dan Dewi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Uh… ternyata si centil juga ikut”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Cela Fattu terhadap Dewi, adik semata wayangnya yang kini genap berusia sembilan tahun.<span> </span>Mamanya dulu tidak mengira setelah Fattu berusia lima belas tahun, dirinya bakal dikarunia lagi seorang anak.<span> </span>Seorang adik untuk Fattu.<span> </span>Rezeki tak terduga itu kini menjadi pelita.<span> </span>Dikala Fattu beranjak dewasa, menginjakkan kaki dibangku Sekolah Menengah Atas.<span> </span>Urusan organisasi sekolah dan les sebagainya, kerap kali menyibukkan ia.<span> </span>Menyisakan sedikit waktu menemani sang bunda.<span> </span>Sampai akhirnya mutiara itu hadir mengisi kekosongan jiwa.<span> </span>Suasana rumah kembali ceria.<span> </span>Tingkah lucu dan ceria si centil Dewi begitu panggilan sayang sang adik tercinta, memenuhi sudut seisi rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Senja menggelayuti sesisi jiwa, kendati bebagai cara dan usaha telah ia coba.<span> </span>Gelisah masih saja mendera, dihujani banyak tanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Tiga bulan terakhir ini, aku merasa kehilangan gairah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Semua yang aku kerjaan terasa sia-sia”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Judul skripsi aku ajukan tempo hari lagi-lagi ditolak Pak Khoir”.<span> </span>Dosen pembimbing Fattu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Untuk ketiga belas kalinya pula”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Belum lagi, skenario-skenario ku ditolak oleh setiap rumah produksi yang aku ajukan”.<span> </span>Tercatat sebagai seorang mahasiswa tak sedikitpun memudarkan harapan Fattu untuk menjadi seorang penulis.<span> </span>Pencetak karya-karya hebat.<span> </span>Karya-karya Best Seller.<span> </span>Bentuk lain perwujudan hobi.<span> </span>Begitulah ia menjawab tatkala orang-orang menanyainya.<span> </span>Kring…. kring… suara telpon dari ruang tengah<span> </span>mengugah keheningan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Halo”.<span> </span>Fattu menyapa lawan bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kak, jangan lupa makan atau mau Dewi yang suapin”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Uh… kamu tu ya…..”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Lagi sensi ni yee….”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Mama nyuruh Dewi mastiin kakak udah makan apa belum”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kakak baru aja mau makan, eit…. taunya telpon Dewi memotong tujuan kakak ditikungan”.<span> </span>Gurau Fattu, menggoda sang adik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Ya udah gih… sana lanjutin jalannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Oh ya kak, Dewi lupa malam ini kita nginep di rumah paman Abdul.<span> </span>Paman Abdul nggak ngebolehin kita pulang dulu”.<span> </span>Dewi menambahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Nih… malem pas banget buat ngedapetin inspirasi kayaknya he…he… .<span> </span>OK deh, selamat berekspresi.<span> </span>Dag… kakak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Dag… centil”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Nih… anak klu udah becanda.<span> </span>Gak tau apa kakak semata wayang mu ini diselimuti kabut gundah gulana.<span> </span>Celetuk fattu mengembalikan gagang telepon yang tadinya ia angkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gemericik hujan, desauan angin dingin menuntun fajar menyingsing.<span> </span>Kokokkan ayam dipagi buta, mengusik sang surya kembali kesinggasana ufuk timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Assalammu’alaikum warrahmatullah, assalammu’alaikum warrahmatullah”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Salam penutup, pertanda tuntas sholat subuh di pagi ini Fattu kerjakan.<span> </span>Pukul lima lewat empat puluhlima menit.<span> </span>Semua lampu diteras ia matikan.<span> </span>Jendela kamarnya ia buka.<span> </span>Gorden hijau tersibak.<span> </span>Seokor ayam terlihat jelas tengah berkokok sambil memejamkan mata.<span> </span>Peristiwa itu mengingatkan Fattu pada sebuah buku humor yang pernah ia baca.<span> </span>Ayam berkokok dengan mata terpejam, sebab si ayam sudah hafal liriknya.<span> </span>Mengingat hal itu tak urung membuat Fattu tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Masak, masak sendiri.<span> </span>Makan,makan sendiri ….<span> </span>Penggalan syair melow khas Caca Handika, terasa begitu pas mengawali pagi Fattu di hari ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pukul sebelas tigapuluh taman tempat biasa Fattu melepas lelah.<span> </span>Tidak biasanya bocah perempuan yang biasa ia lihat tidak nampak hari ini.<span> </span>Hingga adzan dzuhur berkumandang, bocah perempuan ia maksud tidak kunjung datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Gun….”.<span> </span>Fattu memanggil Gugun teman satu fakultasnya itu dari kejauhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Hai”.<span> </span>Gugun melambaikan tangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Sudah dzuhur, yuk kita ke masjid”.<span> </span>Pinta Fattu sesampai Gugun didekatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kamu duluan aja ya Fattu.<span> </span>Pak Khoir menunggu ku, beliau minta aku segera menyerahkan ini”.<span> </span>Gugun memperlihatkan lembaran kertas judul-judul skripsi untuk diajukan ke pak Khoir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“OK, kalau begitu aku duluan ya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sepulang dari masjid Fattu kembali kekampus, letaknya tak jauh seratus meter dari taman.<span> </span>Melalui jalan setapak.<span> </span>Hening, jauh dari hiruk pikuk orang-orang biasa lewat.<span> </span>Benda dingin menempel diliher Fattu seketika.<span> </span>Tiada suatu apapun mampu ia perbuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jangan melawat kalau kau sayang nyawa mu”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Seru seseorang salah satu diantaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Satu orang lagi merogoh saku celana, mengambil dompet. Wal hasil uang dua ratus ribupun melayang.<span> </span>Fattu berhasil di perdayai, kedua makhluk bertopeng kabur meninggalkan dirinya.<span> </span>Belum kering luka, tertoreh garam pedih kian mengangah.<span> </span>Sembilu menjadikannya parah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Astagfirullahal’azim”.<span> </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fattu mengurut-urut dada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Alloh menginggatkan ku dari ke alpaan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Hari ini sampai-sampai aku dipaksa, barulah aku mengeluarkannya”.<span> </span>Kalimat-kalimat penyesalan ia ucapkan.<span> </span>Sedikit membasuh rasa pedih kekecewaan.<span> </span>Rintik hujan memudarkan asa kekosongan jiwa.<span> </span>Fattu bergegas menuju podokkan beratap daun nipa.<span> </span>Disebelah pondokan mengalir sungai kecil berair jernih.<span> </span>Alirannya yang lembut, tergugah rerintikan hujan.<span> </span>Lapangan hijau rumput nan luas membentang di ujung sungai, pelangi membentang memayungi.<span> </span>Bocah perempuan berlari menuju podok tempar Fattu berteduh lengkap degan keranjang dan sapu lidi tergenggam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Nama adik siapa?”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Sapa Fattu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Wina kak”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Beritahu bocah perempua itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Tidak seperti biasanya tadi kakak tidak melihat adik”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kebetulan hari ini wina lebih awal dari hari biasa kak.<span> </span>Tadi sewaktu kakak belum tiba di tempat kakak biasa duduk, wina sudah terlebih dahulu membersihkan daerah sekitar sana.<span> </span>Makanya kakak tidak melihat wina”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.<span> </span>Ucap bocah perempuan berusia kurang lebih sama dengan Dewi adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Apa adik tidak bosan setiap hari membersihkan taman ini”.<span> </span>Fattu kembali bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Tidak.<span> </span>Wina sama sekali tidak bosan kak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Benar adik sama tidak merasa bosan?.<span> </span>Meskipun yang setiap hari adik lakukan itu-itu saja”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Iya.<span> </span>Wina merasa senang, sebab masih banyak kok kak teman-teman wina yang kurang beruntung”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Memiliki semangat dan yakin.<span> </span>Kedua hal itu tidak boleh wina hilangkan.<span> </span>Wina pupuk dan jaga supaya baranya tetap menyala dan terus berkobar”.<span> </span>Lanjut Wina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Oh ya”.<span> </span>Wina membuat Fattu kagum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Iya.<span> </span>Wina jamin deh kak senja di awan biru gak bakalan ada”.<span> </span>Masa sih baru tersandung sedikit aja udah nyerah.<span> </span>Betulkan kak?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Iya betul”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Mendengar ocehan-ocehan bocah perempuan wina tanpa sadar telah menyindir dirinya.<span> </span>Mengetuk batin akan sesuatu hal yang selama ini terlupakan.<span> </span>Bahwasannya kemampuan tidaklah cukup menjadi jaminan keberhasilan dari suatu usaha.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Tanpa disertai semangat dan keyakinan semua hanya akan menjadikannya senja.<span> </span>Ya, senja.<span> </span>Senja di awan biru.<span> </span>Meyerah dikala usaha dirasa belum cukup maksimal. <span> </span>Tertimbun dan hayut dalam keputusasaan”. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Fattu membatin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Permisi kak Wina duluan ya, hujannya udah redah”.<span> </span>Wina berlalu pergi meninggalkan Fattu termangu, larut dalam penyesalan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Oh iya”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Fattu terlambat mengiyakan takkala ia tersadar bocah perempuan itu berlalu pergi meninggalkan dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ucapan-ucapan wina bagi Fattu lebih dari sekedar ocehan biasa.<span> </span>Berlalunya wina menerbitkan kembali inti jiwa miliknya yang dulu sempat hilang terkikis oleh waktu.<span> </span>Hari-hari berikut Fattu jalani dengan penuh semangat, keyakinan dan do’a.<span> </span>Mencoba dan terus mencoba tanpa pernah putus asa.<span> </span>Alih-alih profesi dari penulis skenario menjadi penulis cerpen membuahkan hasil.<span> </span>Kumpulan cerpen bertajuk <em>“Senandung Insan Pilihan”</em> miliknya, tanpa disangka menjadi best seller.<span> </span>Diminati pembaca tanah air.<span> </span>Pil pahit kekecewaan yang dulu pernah sempat ia telan, kini sirna sudah.<span> </span>Melahirkan Fattu yang kini percaya diri, penuh semangat, dan ceria.<span> </span>Senantiasa siap menghadap hari esok yang kan datang menjelang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selesai</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:17.65pt;text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sabtu, 12 Juli 2008</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:17.65pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">09 Rajab 1429 H</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">By <strong>Arina_UKHTI</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:&quot;">Manusia pada umumnya selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:&quot;">Namun, kadangkala tanpa disadari ia kehilangan arah tujuan hidup yang berarti.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:&quot;">( Arina_UKHTI )</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=76&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/27/senja-di-awan-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertumbuhan Da’wah (Realitas dan Pendekatan Emosional)</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/14/pertumbuhan-da%e2%80%99wah-realitas-dan-pendekatan-emosional/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/14/pertumbuhan-da%e2%80%99wah-realitas-dan-pendekatan-emosional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 14:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Da’wah merupakan sebuah kebutuhan pokok setiap muslim jika dia menyadarinya, namun terkadang rutinitas da’wah sering kali menghadapi permasalahan yang rumit, sulit serta terjal terhadap objek da’wah. Belum lagi rintangan yang muncul dari sesama aktifis da’wah yang mengatasnamakan kelompok, organisasi, pandangan, partai politik, mazhab, tradisi, adat istiadat, ideologi, Beda Fiqh dan sekelumit istilah-istilah lain sehingga berujung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=69&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Da’wah merupakan sebuah kebutuhan pokok setiap muslim jika dia menyadarinya, namun terkadang rutinitas da’wah sering kali menghadapi permasalahan yang rumit, sulit serta terjal terhadap objek da’wah. Belum lagi rintangan yang muncul dari sesama aktifis da’wah yang mengatasnamakan kelompok, organisasi, pandangan, partai politik, mazhab, tradisi, adat istiadat, ideologi, Beda Fiqh dan sekelumit istilah-istilah lain sehingga berujung kepada debat kusir, perpecahan dan saling mencurigai karena dinilai terjadi perebutan kader dan posisi strategis dalam masyarakat baik sekolah, kampus, instansi pemerintahan maupun swasta.<span id="more-69"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Setiap kelompok sama-sama menyuarakan bahwa kelompoknyalah yang terbaik dan paling benar, sehingga yang lain tidaklah layak dan tidak pantas mengisi ruang tersebut. Hal ini berdampak pada timbulnya sikap pembenaran (baca : membenarkan sesuatu yang tidak benar) terhadap kekeliruan pada kelompoknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Akhirnya banyak sekali ruang da’wah menjadi terabaikan, masjid yang duluh penuh berubah drastis menjadi kosong melompong secara mendadak. Dibangunlah masjid-masjid baru nan megah dengan kefahamannya masing-masing dan selanjutnya memunculkan perbedaan-perbedaan baru pula demikian seterusnya tidak pernah surut. Da’wah menjadi kehilangan ruh dan identitasnya, tidak lagi menyuarakan kebenaran Al-Qur’an melainkan berganti menyuarakan kepentingan pribadi, kelompok dan politis. Kesempatan semakin terbuka bagi sang superman untuk mengambil alih peran strategis da’wah untuk mengeruk kepentingan pribadi menjelang pilkada dan pemilu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Perjalanan da’wah harus selalu mengalami regenerasi, melahirkan icon-icon baru yang mau melengkapi kesempatan hidupnya dengan kebutuhan satu ini, sehingga da’wah tidak hanya menjadi rutinitas belaka apalagi untuk sekedar mencari sensasi dan popularitas mendekati pilkada dan pemilu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dilain pihak kita beranggapan bahwa tugas da’wah hanyalah tugas para ulama, da’I, kiai, ustadz atau sejenisnya, sehingga tidaklah layak jika yang awampun ikut mengambil porsi da’wah. Padahala tugas da’wah merupakan tugas setiap seorang muslim.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. <strong>( Terj.QS.Ali-Imron [03]:110)</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Penulis berpendapat bahwa salah satu jawaban yang memungkinkan gejalah ini semakin meluas adalah karena masing-masing kelompok masih menggunakan cara lama sehingga strategi da’wahnya tidak mampu menyesuaikan diri dengan medan da’wah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Di tengah pesatnya perkembangan peradaban saat ini, teknologi dan keterbukaan informasi baik Radio, TV, Ponsel dan Internet, dunia da’wah harus mampu menjadikan hal-hal tersebut sebagai tolok ukur menyusun strategi baru untuk melahirkan para pemegang estafet da’wah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis bukan bermaksud menggurui siapapun akan tetapi hanya mencoba untuk berbagi informasi dan sumbangsi yang teramat sederhana bagi keberlanjutan da’wah. Dan mohon maaf jika tulisan ini tidak memiliki referensi karena ini merupakan hasil dari membaca medan serta pengalaman pribadi rekan-rekan penulis sebagai sesama aktifis da’wah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em>“Manusia itu akan cenderung seribu kali lebih menginginkan membicarakan tentang dirinya daripada mendengarkan tentang lawan bicaranya”,</em> demikian ungkapan seorang <strong><em>Less Giblin</em></strong> pada halaman pertama bukunya yang berjudul <strong><em>“Skill With People”</em>.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Ungkapan tersebut di atas nampaknya banyak benarnya, seorang aktifis da’wah tidak akan berhasil manakalah bersikap eksklusif dan egoistis (mau menang sendiri), tidak mau mendengarkan pendapat orang lain meskipun dalam dunia demokrasi kita diberikan keleluasaan untuk bicara. Oleh karena itu, da’wah adalah suatu pendekatan emosional yang bersifat elastis mengikuti medan namun tetap tidak terwarnai oleh kepentingan sesaat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Tahapan-tahapan berikut merupakan tahapan pendekatan emosional yang akan membuka peluang bagi pembaca untuk menyampaikan pesan-pesan da’wah, yang penulis sebut dengan istilah PDKT (Pelajari, Dekati, Kenali dan Tunjukkan).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em>Pelajari</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Mengetahui terlebih dahulu tentang obyek da’wah merupakan salah hal yang teramat penting sebelum kita memulai, karena itu dengan mempelajari terlebih dahulu tentang obyek sebagai sasaran akan meminimalisir hambatan-hambatan yang kemungkinan akan muncul. Hal ini pula yang banyak sekali digunakan di kalangan inteligent untuk mengetahui seberapa besar kekuatan lawan ataupun untuk sekedar membuat manajemen konflik. Coba bayangkan ketika kita diminta untuk menjadi seorang pembicara di muka umum, namun kita tidak mengetahui tingkat keberfikiran pendengar, apakah pendengar seorang awam, apakah seorang terpelajar, ataukah seorang pemikir dengan ketinggian ilmunya. Tentunya kita akan bingung harus berbicara dengan bahasa yang bagaimana. Karena itu mempelajari medan menjadi sangat penting untuk mendukung tujuan yang dimaksud.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em>Dekati</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Tahapan kedua adalah pendekatan. Pendekatan menjadi sangat penting karena pesan da’wah tidak akan sampai selama kita berada sangat jauh dan apalagi kalau kita tidak dikenali oleh obyek kita. Melalui pendekatan akan sangat tahu siapa, apa dan bagaimana obyek. Pendekatan dimaksudkan untuk bagaimana kita menuju kepada tahapan mengenal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em>Kenali</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Kalau untuk sekedar tahu obyek kita baik nama, jenis kelamin, Agama, tempat tinggal, Asal dan keluarga itu merupakan sesuatu yang biasa di masyarakat kita, tapi bagaimana dengan mengenal. Penulis mengartikan istilah “Mengenal” meliputi berbagai aspek, diantaranya : “Kepribadian, Hobi, Yang disukai dan tidak disukai, Pendidikan, Karakter (Watak), Sikap, Keinginan dan segala sesuatu yang berkaitan tentang diri obyek kita”. Informasi-informasi tersebut sangat mudah kita dapatkan dengan melakukan pendekatan kepada orang-orang disekitarnya. Nah…informasi inilah yang nantinya akan sangat berguna untuk dikelola. Oleh karena itu kenalilah lingkungan anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em>Tunjukkan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;">Tahapan ini merupakan tahapan dimana kita bermaksud mengarahkan dan menyampaikan pesan-pesan da’wah secara aman, nyaman dan ringan. Hal ini disebut juga sebagai kesempatan bagi kita untuk menunjukkan dan menyampaikan segala apa yang sudah menjadi tujuan kita.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tahapan- tahapan tersebut di atas merupakan tahapan-tahapan yang saling melengkapi, sehingga tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, tidak bisa dihilangkan salah satu ataupun sebahagiannya. Insya Allah dengan tahapan tersebut di atas kita akan mampu meluaskan sayap da’wah dengan prinsif Rahmatan Lil ‘Alamin. Selamat berjuang dan selalu Istiqomah kepada rekan-rekan sebagai pencari kebenaran sejati. Mohon maaf apabila ada kekurangan dan kepada Allah penulis selalu memohonkan ampunan. [] CRT MK </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=69&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/08/14/pertumbuhan-da%e2%80%99wah-realitas-dan-pendekatan-emosional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ZIONISME</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/27/zionisme/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/27/zionisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 06:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensiklopedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah Anda Zionime dibawa kedalam agenda dunia pada akhir abad ke-19 oleh Theodor Herlz (1860 – 1904 ), seorang Yahudi asal Austria.  Sedangkan, arti dari Zionisme itu sendiri merupakan suatu gerakan yang menghianati kaum Yahudi yang taat. Dahulunya keyahudian ialah nama ras, kelompok dari suatu komunitas.  Bukan sebuah masyarakat beriman.  Orang-orang Yahudi kuat iman dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=62&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tahukah Anda Zionime dibawa kedalam agenda dunia pada akhir abad <strong>ke-19</strong><span style="color:black;"> oleh <strong>Theodor Herlz</strong> (1860 – 1904 ), seorang Yahudi asal Austria.<span>  </span>Sedangkan, arti dari Zionisme itu sendiri merupakan suatu gerakan yang menghianati kaum Yahudi yang taat. Dahulunya keyahudian ialah nama ras, kelompok dari suatu komunitas.<span>  </span>Bukan sebuah masyarakat beriman.<span>  <span id="more-62"></span></span>Orang-orang Yahudi kuat iman dan kaum Yahudi yang berkeyakinan agama lemah mengusulkan adanya sebuah keterpisahan ras di bangsa Eropa. Keterpisahan itu sendiri bermaksud dalam rangka membangun tanah air mereka sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Utuk memtuskan dimanakah tanah mereka seharusnya, mereka tidak pernah mengandalakan pemikiran keagamaan.<span>  </span>Suatu kali, <strong>Theodor Herzl</strong> pernah memikirkan Uganda, yang kala itu dikenal sebagai <em>“Uganda Plan”</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Nah, alasan mengapa mereka pada akhirnya memilih Palestina?<span>  </span>Hal itu disebabkan karena mereka menganggap Palestina adalah tanah air bersejarah bagi orang-orang-orang Yahudi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Kaum Yahudi berkeyakinan lemah melakukan upaya propaganda terus menerus terhadap kaum Yahudi berkeyakinan kuat.<span>  </span>Dengan alasan bahwa, kaum Yahudi tidak dapat hidup damai dengan bangsa-bangsa lain.<span>  </span>Sebab, mereka adalah ras yang terpisah.<span>  </span>Itu sebanya mereka harus bergerak dan menduduki Palestina.<span>  </span>Pada awalnya, sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan itu.<span>  </span>Namun, lama kelamaan keyakinan merekapun kian tergerus.<span>  </span>Hingga mereka yang pada awalnya menolak perlahan-lahan mulai terpengaruh.<span>  </span>Didalam kubu Yahudi itu sendiri Paham Zionisme banyak menuai kritik.<span>  </span><strong>Robbi Hirch</strong>, salah satu<span>  </span>pemimpin keagamaan terkemuka saat itu mengatakan, <em>“ Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional, yang merupakan sebuah penyimpangan”. [] <strong>crt.</strong></em></span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Arina</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">(Sumber : Bait Bait Cinta, 2008)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 12.35pt 0 0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=62&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/27/zionisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamparan sajadah&#8230;</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/15/hamparan-sajadah/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/15/hamparan-sajadah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 09:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Beginilah hamparan sajadah yang ada di masjid kita, terhampar tanpa ada yang merasa memiliki. Dia terhampar begitu saja tak ada yang mau meperdulikannya. Baru dipakai jika ada aktifitas-aktifitas besar, sementara di hari biasa sangat sedikit. Masih untung ada yang adzan, tapi sangat feomenal jika yang adzan di masjid hanya sebuah rekaman muadzin dalam sebuah kaset [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=57&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beginilah hamparan sajadah yang ada di masjid kita, terhampar tanpa ada yang merasa memiliki. Dia terhampar begitu saja tak ada yang mau meperdulikannya. Baru dipakai jika ada aktifitas-aktifitas besar, sementara di hari biasa sangat sedikit. Masih untung ada yang adzan, tapi sangat feomenal jika yang adzan di masjid hanya sebuah rekaman muadzin dalam sebuah kaset atau VCD, yah demikian penulis melihat realitas di beberapa masjid mu’adzin berganti dengan rekaman kaset dan VCD, Benar-benar luar biasa ummat ini, dan bukan satu atau dua masjid yang begini. <span id="more-57"></span><a href="http://fosipalembang.files.wordpress.com/2008/07/32.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-58" src="http://fosipalembang.files.wordpress.com/2008/07/32.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Lalu kemanakah sebenarnya orangnya, apakah tidak ada lagi orang-orang yang peduli untuk sekedar menggemakan adzan, memanggil dan memberitahukan bahwa waktu untuk mengistirahatkan raga dengan sholat sudah tibah? Semua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, cuek bahkan masa bodoh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kalau duluh kita berlomba-lomba untuk menjadi seorang mu’adzin bahkan rebutan mic, kita sebut saja begitu hanya untuk sekedar menggemakan ‘adzan, tapi sayang sekarang tidak lagi. Di masjid hanya bersisa orang-orang tua rentah dengan suara nyaring sekaligus vals dan tak enak didengar, akhirnya muncul cara kreatif putar kaset mirip studio rekaman. Adzan yang sebenarnya pun nyaris hilang dari kehidupan kita. Itupun masih untung masih mau menggemakan adzan meskipun dengan cara kreatif, karena ada banyak masjid-masjid megah yang masih berat hati menyuarakan adzannya. Lagi- lagi kita harus bertanya kemana orangnya ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Kasihan ummat ini, anak-anaknya disuguhkan dengan tayangan kartun menarik ketika jam sholat tiba, tanpa ada perhatian dari orang tuanya, karena memang orang tuanya pun tidak mengerti apa-apa. Para pemudanya disibukkan dengan acaranya masing-masing termasuk berdendang ria dengan gitar favouritnya hingga clubbing dan dugem ria, mencari angin katanya. Orang tuanya pun tidak mau kala gilanya, bahkan lebih para. Maka wajar jika perhatian perhatian orang tua terhadap anaknya nyaris tak terdengar. Termasuk juga sang kakek, meskipun rambutnya sudah pada memutih tapi tingkahnya tak ubah dengan remaja 20 tahunan, tidak lagi memikirkan apa yang akan dibuat untuk masa depannya. Maka wajar jika masjid sepi, sunyi dan senyap mirip gedung tempat penangkaran walet dan ternak kelelawar. Sementara sang kiai, ulama serta tokoh agamanya yang seharusnya menjadi tuntunan lebih suka disibukkan dengan perihal politis, debat kusir tentang bid’ah dan sekelumit perkara kepentingan pribadinya, ummatnya tidak terurus dan tak tahu arah harus mengikuti siapa. Tontonan pun menjadi tuntunan, sementara tuntunan berubah menjadi tuntunan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Maka beruntunglah jika di sekitar kita masih ada masjid yang masih rela menggemakan adzannya,. Mungkin inilah salah satu tanda-tanda hari akhir seperti yang pernah diceritakan baginda Rosulullah. []CRT-MK</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=57&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/07/15/hamparan-sajadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fosipalembang.files.wordpress.com/2008/07/32.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Titian Indah Cinta</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/17/titian-indah-cinta/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/17/titian-indah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang awalnya cerah, tertutupi awan mendung kelabu. Desiran angin kelembapan, menyibak helai demi helai daun pohon akasia. Berjejer nan rapi dihalaman muka sekolah SMA Taman Siswa. Tet&#8230; tet&#8230; tet&#8230; Bel istirahat bergema seantero sekolah. Hulu hilir siswa meniti koridor. Ada yang menuju perpustakaan, ada pula yang menuju kantin. &#8220;Khadijah&#8230;..&#8221;. Panggil makhluk imut berjilbab putih. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=42&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pagi yang awalnya cerah, tertutupi awan mendung kelabu. Desiran angin kelembapan, menyibak<br />
helai demi helai daun pohon akasia. Berjejer nan rapi dihalaman muka sekolah SMA Taman Siswa.<br />
Tet&#8230; tet&#8230; tet&#8230; Bel istirahat bergema seantero sekolah. Hulu hilir siswa meniti koridor. Ada yang<br />
menuju perpustakaan, ada pula yang menuju kantin.</p>
<p>&#8220;Khadijah&#8230;..&#8221;. Panggil  makhluk imut berjilbab putih.<br />
&#8220;Eits&#8230;. gak usah dilanjutin aku sudah tahu,  kekantinkan?&#8221;.  Seloroh Khadijah pemilik rambut ikal<br />
sebahu, menghentikan  Ashifa melanjutkan ucapannya.<br />
&#8220;He&#8230;. he&#8230;. tahu aja kamu&#8221;. Ashifa  tersenyum.  Terlihat lesung pipi yang ada dikedua pipinya.  Ia<br />
begitu riang.   Khadijah mengerti keinginannya.<br />
&#8220;Ya sudah, yuk&#8221;. Ajak Khadijah seraya  menggamit lengan Ashifa.<span id="more-42"></span><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-size:x-small;"><br />
Melewati pintu ruang kelas IPA.1, yang merupakan  kelas kebanggaan mereka berdua.  Baru dua<br />
langkah kelas mereka tinggalkan,  Khadijah mendadak menghentikan langkah.<br />
&#8220;Tunggu sebentar Fa, sepertinya ada  yang terlupakan&#8221;.  Pinta Khadijah.<br />
&#8220;Oh, iya.  Kamu tunggu disini sebentar ya,  enggak lama kok!&#8221;.  Lanjutnya.<br />
Tidak lama kemudian, makhluk jangkung dan  kurus itupun kini telah kembali<br />
&#8220;Kamu pergi kemana?&#8221;.  Tanya Ashifa.<br />
&#8220;Ke  kelas IPS.1, ada amanah dari teman&#8221;.<br />
&#8220;Amanah apaan?.  Kayaknya penting  banget&#8221;.  Selidik Ashifa, dipenuhi keingintahuan yang mem-<br />
buncah.<br />
&#8220;Ada  deeh&#8230;.&#8221;.  Jawab Khadijah.  Membuat rasa keingintahuan Ashifa kian  bertambah.<br />
&#8220;Buruan yuk kekantinya.  Nanti jam istirahat keburu habis.  Udah  nggak usah dipikirin, nanti kamu<br />
juga bakalan tahu sendiri kok Fa&#8221;.  Terang  Khadijah, mengalihkan pembicaraan.</span></span></p>
<p>Sepiring lontong sayur milik Ashifa,  semangkuk mie ayam pesanan Khadijah telah terhidang dimeja,<br />
menunggu untuk  disantap oleh keduanya.  Sepuluh menit jelang bel masuk, keduanya tengah  berjalan<br />
menuju kelas.<br />
&#8220;Alhamdulillah&#8230; cacing didalam perut berhenti  juga berdemo&#8221;.  Ucap Ashifa seraya mengelus-elus<br />
perutnya.<br />
&#8220;Ashifah&#8230;  Ashifah&#8230;, emang cacing didalam perutmu itu bisa demo juga?&#8221;.  Khadijah  memperolok<br />
Ashifa.<br />
&#8220;Ya, iyalah&#8230; masa ya iya dong.  Gak cuma Mahasiswa  sama rakyat aja yang bisa demo minta<br />
diturunin harga BBM&#8221;.  Timpal  Ashifa.<br />
&#8220;Klo udah tiba waktunya makan, tapi kitanya juga belum makan.   Pastinya mereka bakalan brontak&#8221;.<br />
Lanjutnya.<br />
&#8220;Ehm&#8230;. masuk akal juga&#8221;.   Khadijah membenarkan.</p>
<p>Ruang kelas IPA.1. Meja baris kedua dari pintu  masuk, meja nomor urut pertama. Kedua sahabat itu<br />
asyik mengobrol, menanti  bel masuk pertanda istirahat usai.<br />
&#8220;Fa, kamu mau tahukan kepentingan yang  tadi aku maksudkan&#8221;.  Khadijah kembali teringat.<br />
&#8220;Iya&#8221;.  Sambut Ashifa  antusias.<br />
Khadijah merogoh saku androk.  Tangan Ia keluarkan dari saku,  menggenggam sesuatu.  Sesuatu<br />
itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah  sebuah surat tersampul amplop merah muda.  Suasana<br />
kembali hening.  Yang  memang hanya ada mereka berdua saat ini.  Khadijah meraih tangan  Ashifa.<br />
&#8220;Nih, untukmu&#8221;.  Amplop surat merah muda, Kahdijah genggamkan  ketangan Ashifa yang Ia raih.<br />
Jari-jemari Ashifa gemetar.  Perlahan Ia tarik  kembali tangannya.  Panas dingin sekujur tubuhnya.<br />
Dag&#8230;. dig&#8230; dug&#8230;  detak jantung semakin cepat memacu.  Galau, takut, cemas dengan apa yang<br />
ada  dihadapan.  Tak mampu jua Ashifa sembunyikan.  Seberapapun kuat Ia melawan,  namun rasa<br />
itu semakin enggan padam, berhenti dan tenang.  Semua tampak  tergambar jelas pada raut wajah</p>
<p>oval miliknya.<br />
&#8220;Kamu kenapa  Fa?&#8221;.  Khadijah keheranan.<br />
&#8220;Ti&#8230;.dak&#8230; tidak kenapa-kenapa kok&#8221;. Ashifa  mengelengkan kepala.<br />
&#8220;Pertama, nih surat sampulnya merah muda.  Trus udah  gitu yang ngasih cowok pula.  So, apalagi<br />
klo bukan surat cinta&#8221;. Goda  Khadijah.<br />
Ashifa tak ambil pusing terhadap perkataan Khadijah. O&#8230;o&#8230;,  bertapa terkejutnya Ia.  Tatkala<br />
merentangkan amplop.  Lengkungan garis  membentuk hati, yang ditengahnya bertuliskan Dear<br />
Ashifa.  Tak kuasa Ia  melanjutkan.  Niat membuka amplop Ashifa batalkan.  Buru-buru surat<br />
Ia  masukkan kedalam tas.<br />
&#8220;Lho&#8230;. kok nggak dibaca?&#8221;..  Reaksi Khadijah  kaget.<br />
&#8220;Maaf, sebaiknya tidak untuk saat ini&#8221;.<br />
&#8220;Terserah&#8221;.  Kedua bahu  Khadijah terangkat mengiringi ucapannya.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Letih dan peluh  menghinggapi sekujur tubuh.  Ashifa merebahkan diri ditempat tidur.  Seolah<br />
tiada kuasa menolak kehendak mata yang saat ini ingin  terlelap.<br />
&#8220;Astagfirullahal&#8217;adzim&#8230;&#8221;.  Ashifa tersentak bangkit dari  peraduan.  Matanya melirik jam tangan<br />
yang masih melekat ditangan.  Pukul  empatbelas lewat sepuluh menit.  Tidak diduga, cukup lama<br />
Ia terlelap.   Bergegas Ia mengganti pakaian seragam dengan pakaian kesehariannya. Menuju kamar<br />
mandi dan berwudhu.  Pikiran dan hati Ashifa kini telah kembali tertata.  Wajahnya kembali fres<br />
seperti sediakala.  Tak ada lagi lukisan gundah gulana  mewarnai raut wajah.  Dengan penuh<br />
kekhusyukan sholat dzuhur Ashifa  jalankan.  Mukena miliknya kini terlipat rapi.  Seruan bunda,<br />
membuka pintu  kamar perlahan.<br />
&#8220;Shifa, ayo turun makan&#8221;.<br />
&#8220;Ok, bunda&#8221;.  Sahutnya  semangat.<br />
Usai rutinitas membantu sang bunda, Ashifa kembali kekamar.  Amplop  surat merah muda<br />
ada digenggaman.  &#8220;Tapi, ah&#8230; sebaiknya aku lupakan&#8221;.   Surat itu Ia letakkan tepat disela-sela<br />
buku agenda biru tua.  Tempat dimana  skejul masa depan Ia rancang.  Keingngintahuan identitas<br />
si pengirim  nampaknya akan tetap Ia pendam.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Dua tahun berlalu.  Masa-masa  ceria dikala SMA telah jauh tertinggal.  Target memasuki Akademi<br />
Kedokteran  Unggulan berhasil Ia raih.  Senyum Ashifa mengembang.  Duduk dikursi menghadap<br />
meja belajar.  Jari-jemarinya menyibak lembar demi lembar agenda bersampul  biru tua.  Diantara<br />
ibu jari, telunjuk danjari tengah terselip sebuah pena.   Mengayun langkah mengikuti gerak jari-<br />
jemari.  Handphone Ashifa berderit,  ada panggilan masuk.<br />
&#8220;Hallo&#8230;.  Assalammu&#8217;alaikum.&#8221;<br />
&#8220;Wa&#8217;alaikumussalam&#8221;.<br />
&#8220;Apa kabar  Fa?&#8221;.<br />
&#8220;Alhamdulillah baik Ja&#8221;.<br />
&#8220;Fa, afwan ana mau tanya.  Masih ingat  nggak sama mas Hanafi?&#8221;.<br />
&#8220;Mas Hanafi yang satu sekolahan sama kita dulu  itukan. Memangnya kenapa Ja?&#8221;.<br />
&#8220;Begini Fa, dulu ana pernah ngasih surat untuk  kamu.  Itu loh&#8230; yang amplopnya merah muda&#8221;.<br />
&#8220;Iya, aku ingat&#8221;.<br />
&#8220;Apa sudah  kamu baca?&#8221;.  Khadijah kembali menanyakan.<br />
&#8220;Belum Ja.  Itu sudah lama  berlalu.  Lagi aku sudah lupa menaruhnya dimana&#8221;.<br />
&#8220;Astaga.  Jadi, apa  isinyapun kau sama sekali tidak tahu&#8221;.  Khadijah terkejut.<br />
&#8220;Tidak.  Aku  bahkan sama sekali tak ingin tahu.  Tak ingin kuracuni hatiku, untuk  kemudian<br />
terjerat cinta yang diragukan kehalalannya.  Ku hanya ingin berlabuh  pada titian indah cinta,<br />
senantiasa Alloh ridho  dalam setiap  pengamalannya&#8221;.<br />
&#8220;Jika benar, demikian ukhti harapkan?  Segeralah temukan  surat yang sama sekali belum ukhti<br />
ketahui apa maksud dan tujuannya itu.   Insya Alloh, disana mungkin akan ditemukan jawaban.&#8221;<br />
Ashifa mengerenyitkan  dahi.  Ia bingung maksud perkataan disampaikan oleh Khadijah.<br />
&#8220;Ana paham,  ukhti sedang bingung.  Nanti pabila telah ditemukan, ukhti akan mengerti maksud<br />
atas segala ucapan.  Assalammu&#8217;alaikum ya  ukhti&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikumussalam&#8221;.  Telphone terputus.  Suara  Khadijahpun menghilang.<br />
Kebingungan kian menerpa dirinya.  Kalimat ucapan  terakhir Khadijah terngiang-ngiang, berulang<br />
melintasi fikirian.  Jari-jemari  Ashifa terhenti pada halaman tengah agenda..  Ia tertegun.  Baru  saja<br />
diperbincangkan, surat yang dimaksud pada akhirnya ditemukan.  Tergerak  Ia, ingin mengetahui apa<br />
gerangan isi termaktum dalam surat tersebut.   Tulisan bagian depan amplop tetap sama, seperti saat<br />
pertama ketika ia  membacanya.  Amplop surat ia balik.  Tempat dimana tertera nama sang pengirim.<br />
&#8220;Ha..ha..hanafi&#8230;&#8230;.&#8221;.  Ashifa tergagap mengeja huruf nama tersebut.   Kontan ia pun terkejut.  Isi<br />
surat Ia keluarkan.  Dengan hati berdebar,  surat ia baca.</p>
<p>Assalammu&#8217;alaikum.</p>
<p>Maaf, bila gerangan  kehadiran surat ini mengusik kedamaianmu.  Semoga apa yang saya  sampaikan<br />
tidak mengurangi luhurnya niat, tulusnya harap.  Dan semoga  sedianya pintu maaf dibukakan bagi<br />
yang menulis dan juga yang  membacanya.</p>
<p>Bila hati tercemar cinta, jihad pulalah peredamnya.  Namun  bila, rasa itu tiba. Ciptakan mimpi<br />
terangkai menjelma nyata.  Segala upaya  telah ku coba, hanya inilah yang dapat menjadi penengah.<br />
Dan semoga maksud  baik inipun adalah jawabannya.  Ashifa, bersediakah kau mengarungi titian indah<br />
cinta-Nya bersama denganku?.  Kutunggu  jawabanmu.</p>
<p>Wassalam.<br />
Hanafi</p>
<p>Ashifa menitikan air mata.   &#8220;Subhanalloh..&#8221; desahnya.  Sama sekali ia tiada menduga, dikala<br />
kalangan  remaja terlena dalam jeratan trend pacaran. Hanafi justru lebih berani  berkomitmen.<br />
Kekeguman akan sosok mantan ketua OSIS siswa IPS.1 soleh,  karismatik serta pekerja keras,<br />
Hanafi tak mampu Ia rengkuh.  Ketika  anak-anak sebaya asyik berfoya dengan uang orang tua,<br />
tidak dengan Hanafi.   Ia justru memilih bekerja membantu mengurus pabrik roti milik<br />
ayahandanya.  Semuanya telah berlalu, meninggalkan sesal. Lembaran surat kembali dimasukan.<br />
Akan tetapi, jemarinya terhenti.  Tersandung sesuatu. Tangan Ia tarik  keluar. Lelehan bening<br />
mengaliri pipi ia usap. Rupanya benda itu adalah  sebuah cicin. &#8220;Cincin inupun kini tak berarti apa-<br />
apa&#8221;. Desah Ashifa pilu.   Cicin itu hanya mampu Ia kenakan dijari telunjuk  kiri.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Perkuliahan menamapaki semester enam.  Pinangan anak  Pak Camat Desa Sukaremi, terus<br />
menanti jawaban Ashifa.  Hingga kini, belum  kunjung ia menemukan ketetapan hati.  Abangnya<br />
Rizal belum pula menikah.   Manalah mungkin kuasa Ia mendahului.<br />
&#8220;Ah&#8230; andai saja gadis pinangan abang  tidak ngotot memilih melanjutkan studi S.2, baru setelahnya<br />
menikah.  Abang  tentu kini berbahagia&#8221;.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Ba&#8217;da dzuhur cahaya terik mentari  menghujam tepat ubun-ubun kepala.  Ashifa berdiri<br />
menghadap papan  pengumuman.  Seragam putih, almamater putih kebagaan dengan setumpuk<br />
buku  terpangku ditangan.  Tidak lama kemudian, Ia pun berbalik melangkah dan  ups&#8230;&#8230;<br />
Brek&#8230; brek&#8230;.. Buku-buku berjatuhan.  Agenda biru tua yang  tadinya ditaruh paling atas buku-buku<br />
lainnya ikut pula tercecer.  Tanpa  sengaja Ia menabrak seorang gadis.<br />
&#8220;Astagrirullahal&#8217;adzim.  Afwan dik saya  kurang hati-hati&#8221;.  Demikian Ia panggil, sebab gadis<br />
tersebut nampak jauh  lebih muda ketimbang dirinya.<br />
&#8220;Sama-sama mbak, saya juga mohon maaf kurang  berhati-hati&#8221;.  Pinta gadis yang mengenakan<br />
jilbab cream itu, menyerukan hal  serupa.<br />
&#8220;Kenalkan saya Ashifa.&#8221;  mengulurkan tangan pertanda  perkenalan.<br />
&#8220;Neni&#8221;.  Menyabut uluran jabat tangan Ashifa.<br />
&#8220;Ada yang hilang  dik bukunya?&#8221;. Ashifa menanyakan.<br />
&#8220;Alhamdulillah semua komplit.  Syukron  mbak, tapi saya harus buru-buru pergi&#8221;.<br />
&#8220;Afwan&#8221;. Ashifa kembali beranjak  pergi.</p>
<p>Keesokan harinya. Rizal menghampiri Ashifa yang saat ini tengah  duduk diteras.  Rizal<br />
menyampaikan sesuatu pada Ashifa.  Ia nampaknya  serius.<br />
&#8220;Dik abang mohon untuk yang satu ini jangan kau tolak ya?&#8221;.<br />
&#8220;Loh..  kok begitu&#8221;.<br />
&#8220;Pastinya.  Sebab dia bilang kau telah menerima  pinangannya&#8221;.<br />
&#8220;Gimana bisa bang, shifa aja sampai sekarang belum memberi  jawaban apapun.  Dan kalaupun<br />
iya, mana mungkin shifa mampu mendahului  abang.  Shifa ingin abang terlebih dahulu menikah&#8221;.<br />
Jelas  Ashifa.<br />
&#8220;Siapapun lebih dulu bukan masalah..  Jodoh sudah ada yang atur.   Cepat atau lambat, semua<br />
telah ada ketetapannya.  Satu hal adikku, niat baik  haruslah disegerakan&#8221;.<br />
&#8220;Besok dia akan kemari meminangmu secara resmi.  Ingat  kau harus hadir&#8221;.  Rizal mengusap-<br />
usap kepala ashifa dengan penuh kasih  sayang.<br />
Apa yang dikatakan abangnya benar.  Niat baik tidak boleh ditunda.   Ashifa tak kuasa mem-<br />
bendung air mata.  Abangnya begitu berbesar hati, ridho  dan rela didahului menikah oleh<br />
dirinya.  Hari dijanjikan tiba.  Perasaan  hati Ashifa diliputi berjuta tanya.  Siapa gerangan orang<br />
yang dimaksud  abangnya, pria yang lamarannya ia terima..  Berulang kali mencoba mengingat,<br />
akan tetapi tak ada satupun tertemukan jawab.<br />
&#8220;Assalammua&#8217;alakum&#8221;.  Seru  seorang gadis tatkala membuka pintu kamar Ashifa.<br />
&#8220;Wa&#8217;alaimussalam.  Neni&#8230;,  kok kamu ada disini?&#8221;.  Ashifa terheran.<br />
&#8220;Udah nanti aja Neni jelasinnya.   Yuk mbak ikut Neni sebentar.  Ada yang mau Neni perlihatkan<br />
sama mbak?&#8221;.   Neni menggamit tangan Ashifa menuju teras depan, melewati ruang tamu.   Dikursi<br />
tamu tampak abangnya Rizal berserta ayah dan bunda tengah berbincang  dengan lima orang.<br />
&#8220;Ha&#8230;. hanafi&#8221;.  Seru Ashifa pelan keragu-raguan  setibanya diteras.<br />
&#8220;Assalammua&#8217;alakum&#8221;.  Sapa pemuda tinggi berbaju koko biru  muda menelungkupkan tangan<br />
kedada.<br />
&#8220;Wa&#8217;alaimussalam&#8221;.  Sahut Ashifa seraya  melakukan hal yang sama.<br />
&#8220;Mbak tunggu disini sebentar ya, ada sesuatu yang  harus Neni kembalikan pada mbak&#8221;.<br />
&#8220;Ini milik mbak&#8221;.  Neni menyodorkan buku  tebal sampul biru tua.  Yang sama sekali tidak ia<br />
duga sebelumnya bahwa buku  keduanya telah tertukar akibat insiden saat keduanya  pertama<br />
bertemu.<br />
&#8220;Sebelumnya Neni minta maaf mbak.  Tak terbesit  sedikitpun niat bermaksud lancang membaca<br />
agenda pribadi mbak.  Pada saat  Neni ingin menyusun kembali buku-buku, ada sesuatu yang<br />
terjatuh dari  agenda.  Neni berniat mengembalikan ketempat semula tersibak halaman  yang<br />
bertuliskan, andai kesempatan masih ada?.  Saat itu Neni tersadar buku  itu bukanlah buku<br />
Neni.  Amplop yang terjatuh Neni taruh kembali. Pada sampul  bagian amplop tertera nama mas<br />
Hanafi. Namun lagi-lagi neni urungkan.   Amplop yang telah terbukapun neni baca. Tulisan tangan<br />
itu tidak lain adalah  tulisan tangan mas Hanafi.  Merasa belum yakin, surat itupun neni  tunjukan<br />
pada mas Hanafi.  Dan setelah dilihat, mas Hanafi pun mengiyakan&#8221;.   Cerita Neni pada Ashifa.<br />
&#8220;Mbak tentu heran, kenapa saya dan mas hanafi ada  disini.  Ini semuanya berkat abangnya mbak<br />
mas Rizal.  Boleh jadi, ini adalah  skenario Alloh yang dirancang untuk mbak.  Mas Hanafi dan mas<br />
ternyata  saling kenal satu sama lain.   Akhirnya hari inipun terjadi&#8221;.   Lanjutnya..</p>
<p>&#8220;Subhanalloh&#8230;&#8221;.  Lafaz Ashifa.  Mensyukuri betapa besar  nikmat karunia yang diberikan Alloh<br />
kepada dirinya.  Hanafi yang dulu ia  kenal memang benar-benar kini ada dihadapannya.  Ashifa<br />
sama sekali tiada  mengira gadis yang dulu ia tabrak ternya adalah adik hanafi.<br />
&#8220;Saat ini  kuingin kembali mengulang kembali kalimat yang dulu pernah ku ucapkan.   Ashifah,<br />
bersediakah kau menagrungi mahligai titian indah cinta beriring  denganku?&#8221;.  Ucap Hanafi<br />
mengambil alih pembicaraan.  Suasana hening  sejenak.<br />
&#8220;Tentu&#8221;.  Balas Ashifa penuh keyakinan.<br />
Cicin yang semula  menempati jari telunjuk, telah dipindahkan oleh ibunda hanafi ke jari  manis<br />
lentiknya.  Sebagai pertanda kesediaan.  Kebahagiaan kembali membahana  dihari akad<br />
nan penuh khidmat, dikala lafaz qobiltu telah terucap.  Do&#8217;a  selamat sanak saudara terdekat<br />
menawali keduanya mejalani titian indah  cinta.</p>
<p>Selesai</p>
<p>Rabu, 4 Juni 2008<br />
29 Jumadil Awal 1429 H<br />
By  Arina_UKHTI</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=42&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/17/titian-indah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FPI,Siapa yang paling beruntung??</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/09/fpisiapa-yang-paling-beruntung/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/09/fpisiapa-yang-paling-beruntung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 06:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Realita kehidupan bangsa yang carut-marut dilanda berbagai permasalahan yang kompleks di negeri, membuat bangsa Indonesia menjadi simalakama, tidak punya pendirian dan plin-plan seperti mental bangsa kita saat ini. Negera yang cukup besar dengan berbagai pluralitas yang tersebar di Indonesia membuat Pemerintah tidak tegas dan banci. Tidak ubahnya seperti aktor dan aktris yang berperan sebagai waria. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=36&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="EN-US">Realita kehidupan bangsa yang carut-marut dilanda berbagai<span> </span>permasalahan yang kompleks di negeri, membuat bangsa Indonesia menjadi <em>simalakama,</em> tidak punya pendirian dan plin-plan seperti mental bangsa kita saat ini. Negera yang cukup besar dengan berbagai pluralitas yang tersebar di Indonesia membuat Pemerintah tidak tegas dan banci. Tidak ubahnya seperti aktor dan aktris yang berperan sebagai waria. Negara ini tidak jelas memiliki identitas, ketika dikatakan sebagai Negara Islam kontroversi bermunculan, </span><span id="more-36"></span><span lang="EN-US">jika dikatakan Negara Liberal pun menolak, negara Kapitalis, atau Sosialis juga tidak. Jika Pemerintah bertindak tegas dan tau dengan identitas bangsa sesungguhnya sejak dahulu kala Indonesia adalah Negara Islam, lalu kenapa kita takut untuk menyatakan diri sebagai Negara Islam. Soekarno adalah sosok pemimpin yang militan terhadap Islam, Soeharto, dan Presiden seterusnya. Sama halnya dengan Isu nasional yang berkembang terhadap pembubaran Front Pembela Islam yang jelas sebagai eksekutor dalam gerakan anti maksiat, penegak syari’at Islam. Fundamentalisme yang dirasakan oleh saudara-saudara kita FPI seharusnya menjadi panutan bagi kita. Kenapa kita diam ketika Islam dicemooh dan dihinakan, bukankah kita adalah saudara seiman dan se-‘aqidah. Jika terjadi gerakan separatis sesungguhnya itu adalah bagian yang tegas dalam penegakan hukum Islam, karena Penegakan Hukum di Negeri ini seperti <strong>Pelacur <em>(terlalu murah)</em>.</strong> Sejauh ini kasus <strong>Munir <em>(Penegakan HAM), </em>BLBI, Ilegalloging, Woman Traficking </strong>dan masih banyak kasus lain yang seharusnya lebih diprioritaskan tetapi justru sebaliknya. Dan jangan-jangan ini merupakan salah satu <strong>Skenario Pemerintah dan Media dalam Pengalihan Isu BBM yang tak lama lagi naik mulai dari 8.000,- s.d 10.000,- dengan mengalihkan isu sarah yang tidak produktif.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="EN-US">Jika kita berbicara tentang aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam, itu merupakan hal yang wajar karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa <em>“Keras terhadap bentuk kekufuran dan kebathilan”.</em> Dan yang perlu kita fahami bahwa Islam digambarkan di dalam Al-Qur’an seperti <strong><em>Lebah, </em></strong>ia tidak akan pernah mengganggu sipapaun kalau tidak ada yang mengganggu atau mengusik. Sama halnya dengan <strong>TRAGEDI MONAS, </strong>yang mengakibatkan hal tersebut adalah disebabkan ejekan yang dilontarkan salah satu kelompok aliansi kebebasan umat beragama sehingga memancing kemarahan FPI yang begitu fundamental dan kental pada Islam. Jangan hanya menjadikan agama sebagai komersialisasi dunia. Begitu banyak kajian akbar yang berujung kepada kajian partai, zikir akbar, tabligh akbar dan yang berujung pada kampanye akbar tetapi ketika saudara kita dihujam dan diintimidasi kita hanya berdiam diri. Saatnya Islam bersatu, bukankah sudah banyak teguran dan cobaan yang diisyaratkan Allah SWT, karena kelalaian kita sebagai muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="EN-US">Wahai saudaraku jangan terpecah belah, karena kita adalah ummat terbaik yang diutus Allah untuk manusia <strong><em>(Kuntum Choiru Ummatin Ichrijat Linnaass).</em></strong> <strong>Masalah FPI</strong> adalah masalah Umat Islam, Masalah Umat Islam adalah masalah Iman dan Syari’at, Masalah Iman dan Syari’at adalah masalah kita bersama. Mari bersama kita <strong>TOLAK PEMBUBARAN FPI</strong>, siapa lagi kalau bukan kita, cukuplah saudara-saudara kita yang ada di <strong>POSO, AMBON, SAMBAS, SAMPIT, BANYUAWANGI, ACEH, </strong>dan lain-lain yang menjadi korban terhadap penindasan <strong>YAHUDI &amp; NASRANI </strong>yang tidak akan pernah relah dan ridho<span> </span>terhadap Islam. Apakah kita juga harus berdiam diri….??</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=36&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/09/fpisiapa-yang-paling-beruntung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Grand Skenario Da’wah Kaum Kuffar, Bukan Barang Baru !!</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/05/grand-skenario-da%e2%80%99wah-kaum-kuffar-bukan-barang-baru/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/05/grand-skenario-da%e2%80%99wah-kaum-kuffar-bukan-barang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 06:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Pasca tragedi monas beberapa hari lalu dan selanjutnya bermuara kepada tuntutan terhadap pembubaran Organisasi Masa Islam (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) lagi-lagi membuat kita miris dan harus menggelengkan kepala. Sebuah pertanyaan spekulatif muncul ke permukaan tentang “SIAPA YANG PALING DIUNTUNGKAN ?” Tidak banyak yang tahu bahwa peran media yang selalu tidak ‘adil menempatkan dirinya (media [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=34&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Pasca tragedi monas beberapa hari lalu dan selanjutnya bermuara kepada tuntutan terhadap pembubaran Organisasi Masa Islam (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) lagi-lagi membuat kita miris dan harus menggelengkan kepala. Sebuah pertanyaan spekulatif muncul ke permukaan tentang “<strong>SIAPA YANG PALING DIUNTUNGKAN ?” </strong>Tidak banyak yang tahu bahwa peran media yang selalu tidak ‘adil menempatkan dirinya (media milik siapa ?,red). <span id="more-34"></span>Membuat kita sendiri yang dirugikan meskipun tanpa kita sadari dan tentu saja kita tahu siapa yang sangat diuntungkan terhadap kasus ini. Kenapa demikian ? Coba kita bayangkan, ketika kebijakan pemerintah yang semakin ditentang dan tidak menyurutkan berbagai aksi penolakan hingga saat ini. Kasus ini menjadi berita utama di seluruh pemberitaan media, pandangan kita kini dialihkan terhadap tuntutan pembubaran FPI berikut para aktifisnya dan akhirnya pemerintah penguasa SBY-JK melenggang dengan gagah (Kalau pemerintah sih sudah pasti ikut meraup keuntungan dan memperoleh manfaat, karena memang kesempatan beginilah yang dicari, Mumpung Lagi Ada Kesempatan, dan Bila perlu perbesar saja ini masalah), begitu kira-kira nada guraunya kalau kita menyebut tentang manfaat bagi SBY-JK. Hanya saja itu sebagian kecil ke-untungan bagi pemerintah (Aji Mumpung). Sesuai dengan pertanyaan tersebut di atas tentang <strong>SIAPA YANG PALING DIUNTUNGKAN ?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Inilah grand skenario yang benar-benar dahsyat, seluruh ormas Islam terpecah, ambil peran/posisi terbaik ketika konflik berlanjut kebetulan media sudah dikuasai, aksi berikutnya adalah mendoktrinisasi ummat Islam dan menyamakan persepsi tentang gerakan Islam Radikal. Nah sederhananya begitu Wah..wah…wah…cara lama namun masih juga ampuh rupanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Kalau kemarin salah satu partai Islam dipecahkan, hari ini Front Pembela Islam (FPI)-nya yang mau dibubarkan, mungkin besok ormas Islam anda yang dibubarkan, hemmm… trus jangan-jangan besok Islamnya juga yang bakalan dibubarkan dengan dalih tidak pancasilais, bertentangan dengan ideologi pancasila atau dalih apalah namanya…atau bahkan bisa jadi besok Indonesianya pula yang mau dibubarkan karena tidak mau lagi berkiblat ke barat?? <strong>“Hati-Hati !!“ </strong>Bisa jadi, dan bukan barang mustahil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">FPI adalah rekan da’wah, FPI adalah mitra da’wah, control publik dan berani ketika aparat mandul. Bersikap arif dan bijaksana tentunya lebih baik, bukan malah men-Justisfikasi dan membubarkan ormasnya, bukan dengan cara mengadili bak penjahat kelas kakap, pelaku kriminal. Mengapa aparat keamanan yang bertindak anarkis sejak dahuluh, kok hingga kini tidak ditindak sama, kalau memang kita inginkan sebuah keadilan. Okelah kita menyebutnya sebagai pertanggungjawaban, tetapi apakah harus sampai pada tingkat pembekuan organisasi, pelarangan organisasi atau sejenisnya tanpa ada bukti nyata. Kalau sederhananya, kan tidak mungkin jika aparat kepolisian yang anarkis, lantas mau membekukan dan membubarkan kepolisian !! bukankah <span> </span>dengan begitu tidak ada etika.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Jujur saja, pasti akan ada banyak yang tertawa seraya bertepuk tangan tatkala Habib Rizik dengan FPI beserta rekan aktifisnya dijadikan tersangka. Ini artinya kesempatan bernafas bagi yang berseberangan akan semakin leluasa dan tidak ada penghalang. Dan lagi-lagi gerakan da’wah juga menjadi korban.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Ketahuilah bahwa, seluruh elemen dan Ormas Islam saat ini secara tidak sadar tertunduk/terkendali sekaligus bergerak dibawah skenario <strong>“mereka?”</strong> dengan alasan dan dalih ke-Indonesiaan, persatuan<span> </span>bangsa, negara pancasila, Kebebasan Ber-Agama, Khalifah Fil Ardh, Islam Rohmatan Lil ‘Alamin yang pada prinsipnya semakin membuka peluang besar bagi <strong>“mereka?”</strong> untuk melancarkan <strong>“misi visi da’wahnya”.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Benar-benar luar biasa dan licik, Maka pantas jika seorang Kafir Laknatullah <em>Snok</em> sendiri berani mengatakan bahwa : <strong><em>“Untuk menghancurkan Islam tidaklah mudah jika melakukan perlawanan bersenjata, karena desingan peluruh, bilahan pedang, hujaman tombak justru akan semakin mengobarkan perlawanan ummat Islam dengan doktrin Jihadnya. Akan tetapi mengadu-domba dan dengan kekuatan orang Islam sendiri merupakan strategi yang paling jituh dan ampuh”.</em></strong> Itu terbukti di depan mata kita saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Dengan pernyataan Snoke H. tersebut di atas, tentunya kita sendiri dapat dengan mudah mengambil sebuah kesimpulan bahwa melambungkan perjuangan Islam yang mempertahankan haknya dengan panggilan terorisme, separatis, kejahatan perang, pemberontak, makar, pengancam keamanan dunia, organisai anarkis atau sejenisnya adalah grand skenario lama kita lupakan (Buka Mata dan Lihatlah Realita, kata sang pujangga)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memunculkan imej membela, berpihak atau membangun dinding/sekat antara yang setuju dengan yang mengecam terhadap sepak terjang FPI karena sejatinya FPI pun adalah saudara, akan tetapi lebih menuntut kita untuk dengan segera bangun dari tidur dan membuka mata, berpandangan arif dan bijak sekaligus me-research terhadap apa sebenarnya yang terjadi dan siapa dalang dan aktor utama dibalik drama konflik saat ini. Tidak mungkin sesuatu itu terjadi jika tanpa sebab dan alasan pasti?? Akhirnya salam da’wah yang tidak pernah padam, semoga kita segera bangun dari tidur panjang kita, apapun, kapanpun, siapapun, dan dari golongan organisasi Islam manapun. <strong>[] <em>Isy Kariiman Au Mut Syahiidan</em></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=34&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/06/05/grand-skenario-da%e2%80%99wah-kaum-kuffar-bukan-barang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Barack Obama, Siapa ?</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/26/barack-obama-siapa/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/26/barack-obama-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 05:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Perhatian dunia kini tertuju kepada soarang senator muda satu ini, menjadi tokoh idola kaum muda, dengan segudang prestasi, karir politik yang melejit dan kemampuan beragumen serta beretorika yang matang turut menopang karir politiknya yang kian menanjak. Sehingga banyak yang membandingkannya dengan berbagai tokoh-tokoh besar Amerika sebelumnya. Yah demikianlah gambaran sang pemuda yang berhasil mencuri perhatian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=32&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Perhatian dunia kini tertuju kepada soarang senator muda satu ini, menjadi tokoh idola kaum muda, dengan segudang prestasi, karir politik yang melejit dan kemampuan beragumen serta beretorika yang matang turut menopang karir politiknya yang kian menanjak. Sehingga banyak yang membandingkannya dengan berbagai tokoh-tokoh besar Amerika sebelumnya. <span id="more-32"></span>Yah demikianlah gambaran sang pemuda yang berhasil mencuri perhatian dunia saat ini mulai dari media cetak hingga elektronik pun turut menganalisis sosok pemuda keturunan afrika satu ini. yah Barack Obama demikian beliau dikenal di kalangan publik Paman Sam! Lengkapnya Barack Husein Obama, Jr.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Beberapa sumber menyebutkan bahwa Barack Obama lahir lahir 4 Agustus 1961 di Queen’s Medical Center di Honolulu, Hawaii. Ayahnya merupakan seorang muslim dan ekonom lulusan Harvard, Barack Hussein Obama, Sr., dari Kenya, dan ibunya Ann Dunham, dari Wichita, Kansas. Waktu Obama dilahirkan, kedua orangtuanya adalah mahasiswa di East-West Center di Universitas Hawaii di Manoa. Dan ketika baru berumur dua tahun kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya Kembali ke negara Asalnya Kenya, Barack Obama masih sempat bertemu sebelum ayahnya meninggal pada tahun 1982. Ibunya menikah lagi dengan Lolo Soetoro, juga seorang mahasiswa East-West Center (MA Geografi 1962) dari Indonesia. Obama kecil pun ikut ibunya sehingga sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 4 SDN Menteng 01 Jakarta, dan Masjid Istiqlal sudah tidak asing baginya karena menjadi tempat bermain favourit sang Obama Kecil. Namun ketika obama (Barry, nama kecilnya) berumur 10 tahun dia kembali pulang ke Hawai dan diasuh oleh kakek neneknya, Madelyn Dunham. Dan seperti yang banyak dilansir oleh berbagai media yang menyebutkan bahwa beliau masih merupakan seorang Muslim, meskipun ada banyak juga yang menyebutkan bahwa dia sudah menjadi seorang pemeluk kristen yang taat (Wallahu A’lam).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Lihat saja bagaimana pada Februari 2007 lalu ketika dia diserang dengan isu ‘Madrasah” selama di Indonesia. Sehingga ia sempat dipermasalahkan oleh isu tersebut, karena keterkaitannya dengan madrasah di Indonesia. Banyak warga Amerika menilai bahwa Madrasah merupakan sekolah muslim yang militan yang melahirkan muslim garis keras, extrim atau teroris.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Saat ini Sang Obama tercatat sebagai senator keturunan Afrika pertama yang berhasil memenangkan pemilihan senat ke Amerika Serikat. Hal ini karena kepiawaian dalam pidato utamanya pada Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 2004, ketika ia masih menjadi Senator Negara Bagian Illinois pada tahun tersebut. Pantaslah jika banyak kaum muda Amerika Serikat sangat mengagumi prestasi dan kepribadiannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Mungkinkah Barack Obama mampu merebut simapti publik Amerika, sehingga mengantarkannya menjadi satu-satunya orang yang berhak duduk di kursi AS1 ? Sesuatu kemungkina bisa saja terjadi, oleh karena itu mari kita simak terus perkembangan berita selanjutnya. <strong>[] CTR.Moko</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em>- dari berbagai sumber</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=32&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/26/barack-obama-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Terjemah Qur&#8217;an Itu Rumit</title>
		<link>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/22/siapa-bilang-terjemah-quran-itu-rumit/</link>
		<comments>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/22/siapa-bilang-terjemah-quran-itu-rumit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 08:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fosipalembang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensiklopedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fosipalembang.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan dan 22 hari Qur’an diturunkan, dan selama itu pula Rosululloh SAW berhasil menda’wahkan Islam hingga tersebar ke segala penjuru dunia. Maka pantas jika majalah Times menobatkan beliau sebagai peringkat 1 (satu) dari 100 (seratus) orang terhebat di dunia. Sebab hanya dalam kurun waktu yang singkat itu, proses da’wah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=19&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan dan 22 hari Qur’an diturunkan, dan selama itu pula Rosululloh SAW berhasil menda’wahkan Islam hingga tersebar ke segala penjuru dunia. Maka pantas jika majalah Times menobatkan beliau sebagai peringkat 1 (satu) dari 100 (seratus) orang terhebat di dunia. Sebab hanya dalam kurun waktu yang singkat itu, <span id="more-19"></span>proses da’wah Islam mampu menggoncangkan seantero dunia. Bahkan menjadi titik berdirinya daulah Islam dari daratan Asia hingga ke daratan Afrika dan Eropa, kalau dikira-kira yah hampir setengah planet bumi ini semuanya tunduk di bawah sistem pemerintahan Islam, dahsyat banget kan ? Tidak hanya itu, para ahli pun bertaburan bak kacang goreng dilahirkan Islam. Sungguh sebuah prestasi yang benar-benar menakjubkan yang telah lebih dahulu Islam ukir dalam tinta emas sejarah peradaban dunia dan belum pernah ada hingga saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Nah tahukah kita bahwa sumber inspirasi da’wah Rosululloh bersal dari Al-Qur’an, kitab yang ke-otentikan isinya dapat dipertanggungjawabkan dan belum ada kitab yang hingga saat ini mampu menyaingi keindahan bahasanya bahkan lebih dari itu. Bahkan filusuf baratpun harus mengakui kehebatan yang dimilikinya. Yang lebih fantastis lagi, sejak kitab ini pertama kali diwahyukan kepada Rosululloh, dihafal oleh para sahabat, kemudian selanjutnya disusun berdasarkan petunjuk (pesan) Rosululloh di zaman Khalifah Usman ibnu Affan hingga detik ini, tidak ada 1 huruf pun yang bertambah, berkurang atau berganti. Semuanya sama mulai dari benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika Australia hingga Atlantik semuanya sama. Coba deh simak bunyi terjemahan Qur’an Surat Yusuf : 2-3 berikut ;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;"><em><span>Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Benar-benar luar biasa, belum ada kitab yang seperti ini, meskipun banyak kaum kafir berusaha menggantikannya walaupun 1 huruf saja, tetap saja Qur’an itu tetap bertahan dengan keaslihannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Belum ada kitab yang begini orisinilnya, yang ada adalah kitab yang diturunkan ketika zaman nabi-nya, kemudian ketika nabinya ditarik oleh Alloh, eh mala ummatnya bikin tambah-tambahan. Jadilah kitab mereka seperti saat ini, banyak antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain saling bertentangan dikotori oleh tangan-tangan manusia. Bahkan 99 persen isinya bukan kayak duluh lagi deh, ya..ma’lum ditulis sesuai selera pengikutnya. Kalau istilah kerennya, kalau tidak sesuai dengan keinginan, yah dirubah kira-kira pas gitu. Maka wajar jika antara negara satu dengan negara lain berbeda, antara provinsi satu dengan provinsi yang lain tidak sama. Dan bahkan tiap terbitpun beda-beda sesuai revisi. Kurang lebih mirip Undang-Undang Dasar 1945-lah yang selalu mengalami Amandemen. He..he..!! Waduh kok jadi ngerembet sama undang-undang segala yah??</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Tapi, apa jadinya jika setiap kita mampu menterjemahkan qur’an dan berkomunikasi secara langsung dengannya? Kira-kira sama tidak yah dengan ketika kita baca komik atau novel gitu ? Seru, Menarik dan lain-lain. Tapi tetap tidak sama loh, karena siapapun yang baca tuh Qur’an pasti berpahalah. Baik lancar maupun tidak, fasih atau terbata-bata yang penting niatnya. Yang jelas kandungannya luar biasa. Dahsyat kan, Apalagi kalau waktu yang diperlukan untuk mempelajari terjemah kitab dengan 30 Juz, 114 Surat dan 6666 ayat ini hanya sedikit, kira-kira tidak kurang dari 1 bulan, nah kalau sudah punya kemauan yang benar-benar dalam waktu Cuma delapan jam tekniknya dah bisa dikuasai<em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Yah demikianlah metode yang baru-baru ini dikenalkan di kota empek-empek (Palembang) oleh ahlinya (red: Akrabnya dipanggil Buya Rahman dari Jakarta) dengan nama Tarjimul Qur’an metode Rohmat, yaitu metode yang diambil dari berbagai referensi seperti : Istiqlal, Krapyak bahkan Granada. Bedanya orang awam pun bisa ikut mempelajarinya dengan muda, tidak sulit-sulit amat kok. Metode ini merupakan hasil penukilan Bapak K.H.Syahroji Bisri (disapa Bang Oji) seorang ulama yang sampe saat ini turut membidangi pembinaan terhadap generasi muda dan melakukan riset terhadap berbagai metode yang sudah ada, kalau kata beliau sih sebagai pengayaan metode untuk mempermuda ummat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Meskipun beliau merupakan jebolan dari pondok pesantren yang berbasis NU. Tapi metode ini tidak hanya dikhususkan untuk orang-orang NU semata, buktinya banyak kalangan menilai metode <span> </span>ini<span> </span>sangat baik sekali jika secepatnya diterapkan hingga masyarakat bawah baik anak-anak, remaja, dewasa hingga nenek-nenek.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Coba kita lihat bagaimana dengan metode Istiqlal, Krapyak dan Granada. Setiap kali ada Workshopnya, ratusan peserta harus antre hanya untuk mendaftarkan diri meskipun harus mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. (Benar-benar luar biasa). Lalu bagaimana dengan metode Rohmat ? apakah lebih bahal ? Oh tentu saja tidak, meskipun dengan segala keunggulannya? Anda tidak harus mengeluarkan uang yang banyak, yang penting mampu beli Qur’an terus punya keinginan yang benar-benar mantap pasti bisa, tinggal mengikuti pelatihannya saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Tapi walaupun dengan segala kelebihannya, tetap saja ada kekurangannya. Yah..kalau saat ini sih, tenaga pengajarnya masih kurang. Barangkali karena metode ini masih baru. Yang jelas tidak usah minder deh sama teman-teman kita yang jebolan pesantren, yang nahwu dan shorofnya faham dan ilmu-ilmu lainnya. Kita juga ternyata bisa, dan penulispun hingga saat ini masih belajar juga loh. Masih ada lagi, sayangnya metode ini belum dijadikan buku karena masih dalam proses. Oke deh bravo buat Bang Oji, gali terus deh Bang !! Ntar kita tunggu momentum selanjutnya (cieeee kayak mo party segala, gau boleh tau)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Sebenarnya sudah banyak metode-metode yang telah ditemukan oleh ulama-ulama kita sejak dahulu, tujuannya agar kita yang awam ini tidak hanya lancar baca tapi juga tahu kandungannya seperti yang sudah penulis sebutkan tadi. Dan metode-metode tersebut sampai kepada metode yang kita bicarakan ini. Nah kalau bukan sekarang kapan lagi dong kita bisa ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;">Oh ia daripada penulis ngoce melulu, mending hubungi saja ahlinya biar lebih faham dengan penjelasannya kirimkan surat kamu ke e-mail se_warna@yahoo.co.id. [] <strong>CTR.Moko</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fosipalembang.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fosipalembang.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fosipalembang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fosipalembang.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fosipalembang.wordpress.com&amp;blog=3732765&amp;post=19&amp;subd=fosipalembang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fosipalembang.wordpress.com/2008/05/22/siapa-bilang-terjemah-quran-itu-rumit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fosipalembang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
